banjir membawa kehangatan   Leave a comment

Saya benar benar tidak menduga Jakarta akan kebanjiran seperti itu dan semua di luar perkiraan. Di hari yang mereporkan itu seperti biasa saya pergi bekerja, hanya saja hari itu saya harus keluar kantor ke tempat lain yang berada agak jauh dari pusat kota. Sebenarnya saya sudah malas untuk pergi hari itu karena cuacanya juga tidak enak, tapi terpaksa harus pergi juga. Dari kantor saya diantar mobil kantor sampai ke tempat tujuan melalui jalan toll arah ke Merak. Sesampai di tujuan saya di drop saja karena waktu itu saya pikir nanti sore biar mobil saya saja yang menjemput ke tempat saya.

Urusan kerjaan di tempat itu lancar tidak ada masalah, bahkan sempat sedikit santai di restoran dekat sana untuk sedikit makan makanan ringan dan minum bersama relasi. Kami berempat dan hanya saya sendiri yang wanita, cerita sedikit soal kerjaan dengan diselingi cerita di luar itu. Cukup enak juga suasananya, entah mengapa mereka begitu antusias mendengarkan cerita saya, tapi kadang agak kikuk juga ya dilihat tiga pria yang matanya semua melihat ke saya. Tapi biasalah namanya pria, kadang kadang matanya mencuri curi pandangan melihat sekitar dada saya dan kadang ke arah paha saya yang sedikit terliaht karena rok saya yang mini itu, yang penting kan mereka tetap sopan.
Menjelang sore ketika saya akan pulang, saya telpon ke suami menanyakan apakah supir sudah menuju tempat saya, karena belum juga tiba, tapi menurut suami mobil sudah dari tadi menuju tempat saya. Melihat saya agak kebingungan, salah satu dari mereka menawarkan untuk ikut mobilnya dan mau mengantarkan saya. Tapi saya merasa tidak enak jadi saya tolak. Karena sudah sore maka kami keluar dari restoran kemudian berpisah di sana. Tinggal saya sendiri yang masih di sekitar sana. Tidak lama setelah itu handphone saya berbunyi dan itu dari suami dan katanya dia dapat telpon dari supir, mengatakan supir tidak bisa menuju tempat saya karena jalanan yang akan di lewati banyak yang tergenang air dan jalan toll macet hampir tidak bergerak. Suami sendiri pulang pakai mobil dari kantor dan sedang menuju rumah dan katanya dia juga mengalami macet.

Saya jadi semakin khawatir dan bingung. Akhirnya saya beritahukan suami biar saya pulang pakai taksi saja yang kebetulan banyak terliaht di sekitar saya.

Saya lupa nama taksinya tapi yang penting ada kendaraan untuk pulang walaupun pasti mahal nantinya. Hujan mulai turun agak lebat, tapi jalanan lancar lancar saja dan saya pikir akan tidak ada masalah, paling hanya macet sedikit nanti di pintu keluar toll. Tapi ternyata salah dugaan saya. Mau keluar jalan toll, padahal masih jauh tapi sudah macet dan hampir tidak bergerak. Entah seberapa lama baru bisa keluar dari toll, tapi diluar sudah mulai gelap dan jalanan tetap macet.

Ahirnya taksi yang saya tumpangi keluar juga dari jalan toll, tapi yang jelas memerlukan waktu lebih dari sejam bahkan mungkin lebih, saya sendiri sudah tidak peduli lagi waktu itu. Padahal pada hari biasa mungkin kurang dari setengah jam sudah bisa keluar dari toll yang saya maksud.

Tapi saya belum bisa tenang, karena perjalanan masih jauh dan jalanan begitu macet hingga tidak bergerak sama sekali. Sementara itu hujan di luar semakin lebat dan jalanan yang awalnya hanya tergenang air sedikit, semakin lama semakin tinggi. Sampai selang beberapa waktu supir taksi mengatakan sesuatu yang membuat saya shock. Supir taksi minta saya turun di jalan saja karena taksinya sudah kehabisan bensin dan tidak bisa terus lagi. Tentu saja ini membuat saya sangat bingung karena bagaimana selanjutnya untuk bisa pulang. Saya juga tidak bisa bilang apa apa lagi ke supir taksi, segera saya bayar dan keluar dari taksi. Di luar hujan masih turun tapi tidak lebat tapi tetap saja baju menjadi basah, apalagi tidak membawa payung saya.
Dengan berjalan kaki menyelusuri trotoar saya berusaha mencari tempat bisa berteduh. Air sudah dari tadi terasa masuk ke dalam sepatu dan bajupun semakin basah. Sampai akhirnya saya mendapatkan tempat untuk berteduh yang agak luas, tapi itu juga sudah ada beberapa orang yang bertujuan sama dengan saya. Tepatnya itu di depan toko yang sudah tutup dan depannya sedikit luas dan terlindung dari hujan yang sedang turun, selain itu lampu penerangannya cukup terang jadi terasa agak aman.
Ketika saya datang untuk ikut berteduh, pandangan semua orang yang berada di situ yang kebetulan semua pria, tertuju ke saya. Tadinya saya tidak begitu menghiraukan karena mungkin karena melihat seorang wanita yang sedang basah kuyup. Baru saya sadar setelah beberapa menit di situ. Saya melihat baju atasan yang berwarna putih yang dipakai sudah basah sekali hingga melekat di badan. Karena bahannya tipis maka terlihat benar badan saya mendekati transparan. Dalam keadaan biasa saja bra yang saya kenakan terlihat dengan jelas, apalagi sekarang. Ditambah lagi hari itu saya memakai bra yang tipis mendekati transparan. Jadi kalau kena air seperti itu sudah pasti dada saya kelihatan dan mengecap, terutama bagian tengahnya. Kalau di luar negeri mungkin saya masih bisa tenang sedikit karena tidak terlalu banyak yang memperhatikan dan peduli dengan penampilan saya. Begitu kikuknya sampai sengaja kedua lengan saya tempelkan ke dada saya, pura pura seperti orang kedinginan.

Dalam keadaan bingung seperti itu tiba tiba pria di sebelah saya yang juga sedang berteduh mengajak bicara saya. Sepertinya pria kantoran yang juga hampir senasib dengan saya. Bicaranya cukup sopan walaupun pandangan matanya tetap saja mencuri curi kesempatan melihat badan saya yang sudah basah itu. Awalnya dia menanyakan mengapa saya bisa sampai basah kuyup begitu. Sayapun mulai menceritakannya secara garis besarnya saja. Ada beberapa pria lain yang ikut juga mendengarkan cerita saya.

Entah karena kasihan dengan saya atau ada maksud tertentu, dia menawarkan sama sama mencari kendaraan lain yang bisa sampai ketempat tinggalnya yang relatif tidak begitu jauh dari situ dan kemudian dari sana dengan kendaraan pribadinya dia mau mengantarkan sampai ke rumah. Sesaat saya anggap suatu ide yang bagus, tapi terus setelah lebih lama saya pikir akhirnya saya menolaknya dengan halus dengan mengatakan saya lagi menunggu kenalan untuk menjemputnya di situ. Pada saat itu memang saya terpikir sesuatu yang lain.
Saya teringat dengan teman saya yang rumahnya yang tidak jauh dari tempat itu. Saya coba menelpon rumahnya, setelah agak lama baru ada yang mengangkat, ternyata hanya anaknya saja yang ada, tapi saya di beritahu nomer hp nya dan segera saya menghubunginya. Dia cukup surprise juga mendapat telpon dari saya karena sudah lama kami tidak berhubungan. Dia sedang dalam perjalanan pulang bersama suaminya juga. Saya ceritakan masalah saya dengan ringkas dan kemudian minta tolong apakah bisa mampir sebentar di rumahnya. Mendengar itu teman saya segera mempersilahkan untuk mampir ke rumahnya. Tapi karena dia juga dalam perjalanan pulang dan kondisi jalanan juga macet maka dia mau menghubungi anaknya di rumah supaya menjemput saya. Seperti mendadak mendapat suatu jalan keluar, hati menjadi senang dan lega rasanya. Berarti saya tinggal tunggu saja untuk di jemput di tempat saya berteduh.
Mungkin setelah menunggu sekitar setengah jam, baru anak teman saya datang. Ketika datang saya tidak sadar dan tidak begitu memperhatikannya karena tidak di sangka anak itu menjemput saya dengan motor trail nya. Saya juga sedikit lupa wajahnya karena sudah lama tidka bertemu. Tadinya dia hanya melambai lambaikan tangan saja ke arah saya, baru setelah dia memanggil mangil nama saya “tante!…tante!…tante Rxxxx !!…” saya sadar itu adalah anak teman saya.
Sebutlah namanya Aris. Waktu terakhir ketemu dengan Aris, dia masih di smp dan tidak setinggi sekarang. Umurnya beberapa tahun diatas umur anak saya yang paling besar. Dia sekarang terlihat lebih dewasa. Dia minta maaf karena menjemput saya pakai motor karena menurutnya lebih cepat pakai motor dan tidak terkena macet. Saya katakan tidak apa-apa, saya juga dulu waktu muda senang naik motor, dan memang cukup lama juga tidak merasakan naik motor, apalagi ini di bonceng, padahal dulu saya lebih sering membonceng orang termasuk suami saya sendiri ketika masih muda. Ketika dibonceng saat itu saya tidak begitu merasakan apa apa selama perjalanan ke rumah dia, tapi kalau sekarang saya ingat mungkin telah mengganggu perasaan si Aris, apalagi lagi masa puber. Saya dibonceng dengan duduk seperti tidak memakai rok saja, karena memang tidak biasa dari dulu kalau duduk miring di bonceng. Waktu itu saya tidak sadar memeluk Aris dari belakang dengan erat dan begitu merapat. Saya sendiri mungkin refleks karena kedinginan sehingga begitu hangat rasanya.
Awal perkenalan saya dengan ibunya Aris, Frida (bukan nama sebenarnya) ini agak unik. Sebenarnya suaminya lah yang teman suami saya sejak dahulu. Sampai suatu waktu ketika kami bersama sama berlibur keluar kota, saya mengenal mereka lebih dekat dan akrab, terutama dengan Frida. Sebelum dengan Frida, suaminya sudah pernah menikah dengan wanita lain dan Aris adalah anak dari perkawinan dengan istri sebelum Frida. Istri pertamanya kalau menurut suami saya, sudah tidak ada karena sakit. Saya sendiri tidak pernah menanyakan soal itu ke Frida karena segan untuk menanyakannya. Frida sendiri baru berumur sekitar awal tiga puluhan, agak jauh jaraknya dengan suaminya.
Singkatnya, waktu kami pertama kali berlibur itu dengan ide suami dan suaminya, kami berempat menikmati permainan sex bersama sama di hotel kami menginap. Di double bed yang lebar itu kami bersama sama melakukan sex. Awalnya kami mulai pemanasan dengan pasangan masing masing dan sedikit melakukan oral sex. Tapi kemudian dengan tuntunan suami dan suaminya, saya dan Frida seperti disatukan dan suami kami saling menikmati tubuh kami dengan meraba dan mencium berbagai tempat pada badan saya dan Frida. Saya menikmati permainan kami, ada rasa nikmat yang berbeda kalau dibanding dengan sex berdua saja.
Pada saat itu saya baru mengetahui dan tebakan saya ternyata memang benar, Frida adalah wanita yang memiliki kepribadian bi-sex. Itu terlihat ketika mulut suaminya sedang menikmati mulut vagina dan clitoris saya, Frida dengan semangat dan agresifnya menciumi dan menjilati kedua payudara saya dengan selingan menciumi bibir saya sesekali kali. Tentu saat itu begitu nikmatnya sehingga saya sendiri sudah tidak begitu memperdulikannya lagi. Padahal saya bukan orang yang suka dengan sejenis, tapi ciuman Frida di sekitar dada dan bibir saya menambah kenikmatan dan benar benar terangsang saya saat itu. Mungkin karena kami ada prianya di situ dan kami menikmati bersama sama, kalau itu semua wanita mungkin saya tidak mau.
Pada akhir dari permainan kami itu, para suami saling menikmati klimaksnya dengan pasangan temannya, jadi suami Frida benar benar “in” dan sampai klimaks di dalam vagina saya. Sejak pengalaman menarik dengan mereka, setelah itu sempat beberapa kali kami bermain seperti itu di tempat lain. Sudah lama juga saya tidak bertemu dan ngobrol ngobol dengan Frida, mungkin kalau tidak musibah banjir ini saya tidak menghubungi dia, masing masing sibuk.
Ketika sampai di rumah Frida memang tidak ada orang di sana selain Aris dan pembantunya. Rumahnya terasa sepi sekali. Aris mempersilahkan saya masuk dan menawarkan mandi dan ganti baju di tempatnya, karena dia sudah di pesani oleh orang tuanya.
Dia mengantarkan saya ke kamar mandinya yang berada di dalam kamarnya yang agak besar dan dia mengatakan akan kembali lagi untuk mengantarkan handuk dan pakaian sementara yg saya bisa pakai.
Kamarnya seperti umumnya anak pria zaman sekarang, tapi terlihat cukup rapih. Disamping tempat tidurnya yang lebar terlihat meja belajar dan stereo set. Di salah satu sudut kamarnya juga ada tv yg agak besar. Saya segera masuk ke kamar mandinya yang hanya di sekat dengan kaca buram yang besar, tidak ada pintu. Saya sudah tidak tahan untuk segera membuka baju yang sudah melekat dan basah itu. Celana dalam dan bra saya juga sudah basah dengan air hujan, segera saya cuci supaya besok bisa dipakai lagi. Rasanya begitu nikmat ketika shower yang hangat membasahi badan dari ujung kepala sampai ke kaki. Ketika lagi mandi yang sampai sekarang masih saya ingat adalah terasa payudara terasa kencang dan kedua puting saya keras dan tegang. Terutama ketika saya menyabuni seluruh badan, sempat saya menekan nekan sedikit kedua payudara, seperti ada perasaan yg memanas di dalam hati saat itu.
Ketika sedang asyik shower tiba tiba terdengar sekat kaca kamar mandi di ketuk dan segera saya menoleh ke arah sekat kaca itu. Ternyata si Aris yang mengetuk dan dia membawakan handuk dan pakaian dan dia letakkan di luar kamar mandi. Saya agak curiga sepertinya dia sudah dari tadi ada di sana, karena tadi sebelum kaca di ketuk, seperti ada suara orang yg memanggil manggil. Mungkin dia sempat mengintip atau melihat saya yg sedang telanjang dari balik kaca buram itu. Maklum anak lagi dalam masa puber.
Sebelum meninggalkan kamarnya dia berpesan agar setelah selesai mandi saya diminta ke ruang makan. Selesai mandi dan mengeringkan badan dengan handuk yg tadi disediakan Aris, saya memakai baju yg dipinjamkannya. Ternyata dia menyediakan baju model kimono untuk tidur yang seperti biasanya ada di hotel hotel. Apaboleh buat terpaksa saya pakai. Sebenarnya agak kurang sreg juga dengan mekai kimono ini tanpa didalamnya memakai celana dalam dan bra. Penutup kimono ini hanya tali pengikat di pinggang, kalau kurang rapih memakainnya tentu bagian dada bisa di intip dan juga paha.
Di ruang makan saya dan Aris makan malam berdua saja, Frida dan suaminya belum juga sampai di rumah. Selesai makan kami pindah ke ruang keluarga dan sambil menonton tv kami pun berbincang bincang. Beberapa kali sejak di meja makan beberapa kali dia mencuri curi pandangan ke saya. Memang dia sekarang semakin dewasa dan mukanya cakep mirip bapaknya, perawakannya juga sudah postur orang dewasa. Di ruang tamu ketika bicara, beberapa kali saya membetulkan belahan kimono saya, karena duduk di sofa yg agak rendah. Itu pun selalu setelah saya melirik ke mata Aris yg mulai resah duduknya dengan mata memandang ke bagian kaki saya. Cukup lama juga kami berbincang bincang, sempat menanyakan ke dia soal hobby nya dan masalah pacar dan lain lain.
Orang tuanya baru tiba di rumah setelah agak malam. Merekapun terjebak macet karena hujan dan banjir. Karena sudah lama tidak bertemu, membuat suasana menjadi begitu meriah. Ketika bertemu Frida, dia segera merangkul saya dan menciumi kedua pipi saya. Saya juga menyalami suaminya dan dia tersenyum dengan senyuman khasnya sambil mencium kedua pipi saya. Saya juga membalasnya dengan ciuman di pipinya. Kita berbincang bincang sebentar di ruang keluarga, terutama cerita soal banjir. Frida segera minta maaf ketika dia melihat kimono yg saya kenakan, dan dia berjanji mau meminjamkan baju yg lainnya. Tidak lama setelah itu saya di antarkan Frida ke ruang tidur tamu dan kunci pintu kamar dia bukakan dan dia serahkan ke saya, tidak lupa saya ucapkan terimakasih karena sudah merepotkan mereka. Kamar tidur Frida dan suaminya terletak di sebelah kamar tamu.
Kamar tamunya terlihat rapih dan memang jarang dipakai selain oleh tamu. Antara kamar tamu dengan kamar Frida ada connecting door yang bisa di kunci dari kedua sisi. Saya sempat rebahan sebentar di tempat tidur dan menelpon suami agar tidak perlu khawatir lagi dan minta besok pagi di jemput.
Tidak lama setelah saya berbaring di tempat tidur, terdengar ketukan dan suara Frida memanggil saya dari balik connecting door. Saya segera membuka kunci pintu dan membuka pintunya. Frida dengan membawa beberapa bajunya masuk ke kamar tamu dan semua baju di letakkan di tempat tidur. Saya diminta mencobanya satu satu. Dia juga membawa celana dalam baru yang masih dalam pelastik, tapi saya menolaknya. Baju atasan dan bawahan saja yg saya pilih pilih. Frida ukuran badannya sedikit lebih kecil dari saya sehingga saya harus memilih baju yang ukuran free size atau yg dari bahan elastis, seperti bahan kaos. Frida juga sibuk membantu memilih baju. Sementara dia memilih saya membuka baju kimono yg saya pakai, Frida sedikit tersenyum ketika saya membuka baju, mungkin karena saya tidak memakai apa apa lagi di dalamnya. Dua tiga baju di coba tapi kurang pas di saya, semua bajunya kebanyakan baju yang ngepas di badannya. Ketika saya melepas baju yang dicoba, dia juga membantu melepaskannya dan dengan sedikit memandang ke badan saya dia memuji muji bentuk postur badan saya. Sempat tangannya menyentuh pinggang dan payudara saya dengan ringan. Ukuran payudara dia sedikit lebih kecil dari saya. Sepertinya dengan basa basinya dia ingin lebih menyentuh badan saya, tapi saya segera mengalihkan pembicaraan agar dia berhenti menyentuh badan saya. Saya kurang biasa kalau disentuh wanita, apalagi kami hanya berdua saja. Sementara saya sedang sibuk mencari baju, terdengar suara suami Frida dari ruangannya memanggil Frida, sepertinya baru selesai mandi. Frida memberi tahu bahwa dia ada di kamar sebelah sedang memilih baju untuk saya. Suaminya kemudian mengatakan ke Frida kalau sudah selesai, saya di suruh ke kamar mereka untuk ngobrol ngobrol kalau belum mau tidur. Kamar tidur mereka cukup besar dan di dalamnya ada ruangan lain kecil untuk duduk duduk dan menonton tv, hanya di sekat dengan sederhana. Kamar itu dilapisi permadani yang tebal bulunya seakan kulit binatang buas dan sekelilingnya tersedia bantal bantal duduk, jadi kita bisa duduk di permadani dengan santai sambil menonton tv.
Akhirnya saya memilih baju atasan kaos lengan panjang berwarna cream dengan kancing di depan, bahannya agak tipis tapi bagian dadanya cukup tertutup kalau kancing yg atas di tutup, karena ukurannya tidak pas dengan saya, terkesan sempit dan kancing kancingnya seperti tertarik ke samping terutama bagian dadanya, sehingga baju sedikit terangkat dan bagian pinggul dan puser saya sedikit terlihat. Bawahannya hanya dapat celana jeans pendek yang ujungnya berserat serat, sebenarnya kalau bisa mau cari yg lain lagi karena terlalu pendek, hanya sebatas pangkal paha lebih sedikit, tapi ya sudah lah. Tapi baju dan celana itu tidak segera saya pakai, sayang, untuk besok pagi saja setelah mandi, sekarang biar dengan kimono ini.
Suasana ruangan duduk di kamar tidur mereka cukup menyenangkan, kami bertiga duduk berderet, Frida duduk di tengah. Sambil menonton tv kami berbincang bincang dengan santainya dan penuh tawa. Awal pembicaraan suami Frida menanyakan keadaan keluarga saya termasuk suami saya. Suami Frida sangat gembira bisa bertemu saya, apalagi menurutnya sudah lama kami tidak bertemu, mungkin sudah setahun lebih. Sebenarnya saya tahu setelah pertemuan terakhir kami waktu itu, Frida sempat bertemu dengan suami saya dan mereka sempat menikmati tidur bersama, semua itu suami pernah cerita ke saya, tapi karena Frida diam saja soal itu maka saya juga pura pura tidak tahu dan mungkin Frida memang tidak cerita ke suaminya.
Ada satu hal yg membuat terpancing hati saya memanas, suami Frida sempat bicara katanya mereka suami istri tidak menyiapkan acara khusus karena saya datang mendadak ke rumah mereka. Dia sempat bicara ke Frida dan saya di rungan itu bahwa malam ini kita harus ada acara khusus. Frida tersenyum penuh arti dan begitu juga saya.
Fokus pembicaraan kembali soal saya yg kehujanan, suami Frida sampai bertanya soal baju saya yang basah berikut bra dan celana dalam saya dengan penuh humor. Kira kira pembicaraannya seperti berikut waktu itu;
“jadi kamu benar benar basah kuyup sampai kedalam…”
“ya iya lah mas…lihat saja sekarang apa yg dia pakai”, kata Frida.
“ini dia didalam kimononya tidak pakai apa apa lagi…”, Frida meneruskan.
Suami Frida tertawa dengan penuh arti yang sedikit ngeres.
“Tuh kan…mulai pikiran kotor” kata Frida sambil tertawa, dan kami pun bertiga tertawa.
“Dia ini Rxx, sekarang lagi enggak mood sama aku, padahal aku sudah pakai baju tidur tipis seperti ini…”, kata Frida sambil kedua tangannya meremas payudaranya dari luar baju tidurnya.
Memang malam itu Frida pakai baju tidur yang begitu sexy, kelihatan kedua payudaranya membayang bayang dibalik bajunya.
“Dia lagi kepingin megang ini kamu…”, kata Frida sambil salah satu tangannya memegang dada saya dan menggenggam payudara saya dari atas baju saya.
Saya agak kaget, tapi entah kenapa waktu itu, saya hanya diam saja membiarkan tangan Frida menggenggam payudara saya, dan anehnya suasana tetap saja penuh humor.
Suaminya pura pura tidak mendengar, matanya di alihkan ke tv, Frida juga mulai iseng dengan tangan yg satunya segera menuju ke daerah bawah puser suaminya yang juga mengenakan baju tidur kimono seperti saya. Tangan Frida menyelinap ke balik kimono suaminya dan sepertinya mengelus elus penis suaminya.
“Tuh…kan Rxx, lihat ini…dia sudah tegang”, kata Frida sambil meminta saya melihatnya.
Sebenarnya saya juga sudah mulai terangsang ketika Frida meremas dada saya, terasa dari dalam vagina saya cairan sedikit keluar dan terasa basah.
Begitu cepatnya kejadian berlangsung, tangan Frida yang tadi menggenggam payudara juga menyelinap ke balik belahan kimono di dada saya dan telapak tangannya langsung menggenggam payudara saya. “Rxx, kamu juga sudah keras begini…”, Frida berbisik di kuping saya.
Saya sama sekali tidak bereaksi, malah membiarkan tangan Frida memainkan payudara saya. Pada saat itu saya masih ingat, suami Frida menoleh ke kami berdua dan pandangan matanya beretemu dengan mata saya saling memandang.
Setelah itu saya sudah tidak ingat lagi kejadian selanjutnya dan tidak ingat lagi urut urutannya. Pokoknya waktu itu terus kami saling memulai permainan yg mengasyikan. Yg masih ingat dan terkesan ketika Frida dan saya ber posisi 69, dia terlentang di bawah dan saya diatas seperti anak bayi merangkak, dan suaminya berlutut tepat dia depan saya, penisnya diberikan ke saya dan saya melakukan oral, terasa begitu keras dan tegang di dalam mulut. Sementara itu kedua tangan suami Frida terus meremas remas dan mempermainkan payudara dan puting saya. Terasa mulut frida dan lidahnya menjilat jilat mulut vagina dan clitoris saya dan kadang kadang terasa lidahnya memasuki vagina saya. Rasanya ketika itu susah untuk diceritakan, pokoknya saya begitu terasngsang, semakin lama semakin basah mulut vagina saya, banyak mengeluarkan cairan, tapi Frida terus tidak henti hentinya menjilatnya, terdengar suara lidahnya.
Penis suami Frida juga terus saya mainkan, sepertinya dia juga begitu terangsang, dari ujung penisnya terasa cairannya keluar sedikit sedikit setiap sedikit saya hisap, rasanya asin dan agak lengket dan setiap itu juga tangannya semakin keras memainkan payudara saya.
Suami Frida dengan baiknya memperlakukan Frida dan saya, bergantian kami dipeluk, begitu juga ketika kami memasuki permainan utamanya, secara bergantian suami Frida memasuki saya dan Frida. Kami bertiga seakan bersatu menjadi satu saling merangsang dengan permainan sex itu. Pada saat saat terakhir suami Frida mencapai klimaks, Frida menyuruh suaminya menyelesaikannya dengan saya, tqpi walupun begitu suami Frida tetap minta izin ke saya dengan berbicara dekat kuping saya untuk menyelesaikannya di dalam saya. Saya menyetujuinya dengan aba aba kepala saya, pada saat itu mulut saya sudah tidak bisa bicara apa apa lagi, yg keluar dari mulut hanya suara yg sedang menikmati sex. Sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yg panas menekan masuk di dalam vagina, suami Frida mencapai klimaks di dalam vagina saya. Saya juga sudah tidak ingat persis kejadiannya waktu itu, hanya terkesan waktu itu begitu nikmat dan mengesankan walaupun sebenarnya saya belum mencapai klimaks. Setelah selesaipun suami Frida menciumi Frida dan saya dan kami berdua dipeluknya. Kami sempat terdiam tidak bergerak disana.
Setelah selang waktu beberapa saat kemudian saya kembali kekamar saya menginap dan connecting door saya kunci kembali. Begitu capai dan ngantuknya, saya langsung merebahkan diri di tempat tidur dan tidak sadar saya sudah tertidur dengan lelapnya sampai tidak sempat memakai kimono tidur saya, dibiarkan tergeletak di sudut tempat tidur.
Pagi hari saya terbangun dengan sedikit kaget karena pintu kamar ada yg mengetuk dan saya lihat jam, ternyata saya sudah tertidur begitu lelap sampai hari sudah agak siangan.
Ternyata yg mengetuk adalah Aris. Begitu tergesa gesa mau membukakan pintu, saya tidak sempat memakai rapih kimono tidur saya. Tanpa mengikat tali kimono dan hanya dirapatkan dengan tangan kemudian pintu saya buka. Aris tidak langsung bicara tapi dia sempat memandang saya yang agak kacau penampilannya, dia tersenyum dan menanyakan ke saya apakah tidurnya nyenyak, sayapun membalsnya dengan senyum. Kemudian saya tanya tentang orangtuanya. Ternyata mereka sudah pergi kerja dan sengaja tidak membangunkan saya. Aris hanya dipesani oleh ibunya untuk nanti mengajak sarapan pagi saya dan menemani saya sampai supir saya menjemput.
Karena ingin mandi saya minta izin ke Aris untuk pinjam kamar mandinya, selain itu saya masih menjemur celana dalam dan bra saya di kamarmandinya Aris. Mungkin karena selama ini Aris saya anggap masih kecil jadi tidak terlalu peduli menjemur pakaian dalam saya di kamar mandinya.
Saya sendiri masuk ke kamar Aris dan menuju kamar mandinya. Ternyata celana dalam dan bra saya belum kering, sayapun terus mandi saja di situ. Ketika mandi dan menyabuni badan, saya masih merasakan payudara saya kencang dan puting saya terus mengeras seperti kemarin.
Selesai mandi dan mengeringkan badan saya memakai baju Frida yg tadi malam di pinjamkan ke saya, baju kaos lengan panjang dengan kancing baju didepan yg agak kekecilan sedikit dan celana jeans pendek. Waktu memilih baju tadi malam karena lampu kamar tidak begitu terang maka tidak terlalu perhatikan benar, ternyata di kamar Aris yg terang ini ketika saya pakai baju itu, sayapun langsung sedikit tersenyum. Karena bahannya agak tipis, kalau tidak pakai bra terlihat payudara agak membayang sedikit walaupun tidak begitu ketara. Tapi yg agak membuat menantang dan menjadi perhatian adalah puting saya terlihat jelas mengecap di baju, dan karena agak sempit kancing kancingnya sedikit tertarik dan terlihat celah celah diantara kancing. Begitu juga bagian bawah baju, karena terangkat di bagian dada sehingga puser dan pinggul sedikit terlihat, tapi kalau kedua tangan keatas, perut terlihat jelas. Saya jadi ketawa sendiri dalam hati.
Kalau celana lumayan cukup, hanya saja paha jadinya kelihatan kemana mana. Tapi sudahlah, waktu itu saya pikir hanya baju sementara untuk pulang ke rumah, tidak untuk dipakai kemana mana. Setelah beres semua saya menuju ruang keluarga dan menemui Aris dan minta kantong plastik kecil untuk menyimpan pakaian dalam saya yg masih basah itu. Aris sempat bertanya untuk apa, sayapun tanpa ada perasaan apa apa dengan polosnya saya katakan untuk menyimpan pakaian dalam yg masih basah sambil menunjukkan ke Aris. Di segera ke kamarnya dan kembali dengan kantong plastik yg bagus, saya surprise juga begitu perhatiannya ke saya. Ketika saya memasukkan bra dan celana dalam kedalam pelastik sepertinya aris dengan teliti memandang saya dari ujung rambut sampai kaki, terutama bagian dada saya, berkali kali dia melirik mencuri pandangan. Begitu juga ketika kami berdua sarapan duduk berhadap hadapan. Ketika sarapan itu saya baru sadar anak ini sudah dewasa, sudah mengenal wanita walaupun tidak tahu sejauh mana. Perasaan selama ini menganggap masih kecil dan memang saya kenal waktu dia di smp.
Ketika sedang makan saya baru merasakan kepala agak pusing dan badan seperti mau flu, mungkin karena kehujanan kemarin, tapi saya tahan dan memeruskan sarapan pagi. Setelah selasai kami kembali ke kamar keluarga dan Aris menyalakan tv untuk saya. Kemudian dia minta izin mau ke garasai untuk mengerjakan sesuatu, dan kalau ada perlu minta di dipanggil saja. Sepertinya dia sedang asyik dengan hobynya mengotrak atrik mobilnya. Saya duduk sebentar di ruang keluarga dan sempat membaca koran dan majalah yg ada di dekat situ. Acara tv tidak ada yg bagus, berita di tv banyak membahas masalah banjir. Saya sempat menelpon ke rumah untuk menanyakan jam berapa saya akan di jemput, ternyata menurut pembantu, suami saya pagi itu tidak mengantor.
Ternyata pusing saya tidak hilang, malah sepertinya bertambah saja dan mulai bersin bersin. Karena takut keterusan, segera saya menuju garasi untuk bertemu Aris untuk minta obat pusing dan flu. Di garasi saya temui Aris sedang mengerjakan sesuatu di bawah dashboard tempat duduk kanan. Saya masuk kemobil dari pintu kiri dan memanggil Aris, dia sedikit kaget dan terjedut dashboard. Melihat itu saya jadi ketawa dan diapun ikut ketawa dan katanya kaget. Kemudian saya bilang bahwa saya agak pusing dan minta obat pusing atau flu. Aris minta waktu sebentar karena sedang tanggung kerjaannya. Selagi menunggu saya duduk di kursi kiri sambil memperhatikan dia bekerja, tapi tidak lama dia berhenti dan meninggalkan kerjaannya, sepertinya tidak konsentrasi di lihat oleh saya.
Setelah mencuci tangan dia terus menuju meja bar yg ada di salah satu sudut ruangan keluarga dan saya mengikutinya dari belakang. Di dekat meja bar itu ada rak tempat obat, tapi sepertinya dia tidak menemukan obat sakit kepala. Sementara menunggu saya duduk di kursi bulat untuk meja bar, meja dan kursinya persis seperti yg ada di bar bar itu. Kemudia Aris melihat ke atas meja bar persis di atas saya duduk, ada laci kecil disana. Dia minta tolong saya membuka laci itu. Karena agak tinggi terpaksa saya harus jinjit dan membuka laci itu. Di dalamnya ada kotak kecil dan Aris minta itu diturunkan. Karena agak tinggi saya tidak bisa memegang dengan benar kotak itu dan kepeleset. Kotak itu hampir jatuh meniban saya. Untung Aris segera menolong merauk kotak itu hingga tidak jadi menjatuhi saya. Tapi ketika dia mau menolong itu badannya menubruk saya dan saya juga refleks takut tertiban, dengan cepat memeluk Aris.
Setelah kotak itu ditaruh Aris di meja bar, saya dan dia sedikit terdiam, dia minta maaf karena kejadian itu, tapi saya hanya senyum saja. Ternyata obat pusing ada di kotak itu.
Ketika dia mau memberikan obat itu tiba tiba dia bicara yg agak lucu. Dia minta izin mau mencium saya. Tentu saja saya tidak ada perasaan apa apa dan langsung memiringkan pipi saya untuk di cium. Tapi kemudian dia bilang bahwa dia masih ingat dahulu waktu pesta ulang tahunnya, saya memberi selamat dan mencium bibirnya. Kemudian saya jadi teringat waktu itu, memang saya cium dia dengan ringan bibirnya. Rupanya dia masih teringat terus ketika itu dan sekarang dia ingin membalasnya rupanya, tapi tentu dia sekarang bukan Aris yg dulu kecil itu. Tapi sudahlah, saya izinkan dia mencium saya, soalnya dia begitu lucu sekali cara bicaranya.
Dia mencium bibir saya dengan lembut awalnya, tapi semakin lama dia semakin berani dan memang pintar dia cara mencium saya. Secara refleks ciuman dia saya balas dengan mesra, tapi ini malah membuat perasaan dan suasananya menjadi aneh, karena terus terang menjadi terangsang ciuman Aris ini. Takut keterusan, segera saya lepas bibir saya dari bibir Aris, tapi sepertinya dia seakan tidak mau berhenti. Saya bilang ke Aris dengan pelan dan halus untuk menyudahkannya karena saya terus terang bilang nanti keterusan dan itu tidak baik karena saya ini kan seperti tante nya saja, bukan temannya. Seperti tidak mau berhenti disana, dia minta sekali lagi saja dan entah kenapa waktu itu saya membolehkannya, seakan tindakan saya tidak sesuai dengan ucapan saya ke dia. Aris kembali mencium saya dan sayapun menyambutnya, tapi kali ini dia lebih berani lagi, lidahnya berusaha mau membuka mulut saya dan inginmelakukan french kiss sepertinya. Karena memang pintarnya, sayapun kalah dengan kemauan Aris. Saya memerimanya dengan membuka mulut saya dan lidahnya dengan cepat masuk ke mulut saya. Sayapun menyambutnya dengan lidah saya sampai akhirnya kami melakukan deep kiss. Terus terang saya waktu itu jadi terangsang.
Tapi Aris ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tangannya mendadak memegang dada saya, kaget saya karena sangat terasa sekali tangannya menyentuh payudara saya yg hanya ditutupi baju kaos tipis. Saya pegang tangannya dan saya coba menariknya dari dada saya, tapi seperti tidak mau menyerah, dia semakin kuat bertahan. Tapi kemudian dia melepas ciumannya dan mengatakan ke saya sejak tadi malam dia terbayang terus tentang saya dan mengganggu pikiran dia. Dia bilang mulai merasakan sesuatu ketika saya di bonceng dengan motornya, ketika saya mandi malam itu dia sempat mengintip lama, baru setelah itu dia mengetuk kaca kamar mandi. Begitu juga ketika sarapan pagi, dia terus berusaha memandang dada saya dan puting yang mengecap di baju, begitu juga paha saya. Dia sengaja tidak mememani saya di ruang keluarga pagi ini karena kalau tidak katanya semakin kacau pikirannya.
Sementara dia bercerita begitu, tangannya sudah membuka hampir semua kancing baju saya. Akhirnya saya kalah dengan alasan dia dan membiarkan tangannya terus bergerak. Saya hanya bisa memejamkan mata saja dan sayapun tidak sadar sudah terangsang. Dengan tangannya dia memainkan payudara dan puting saya dan kemudian mukanya pun membenamkan ke dada saya dan menciumi payudara saya yg sebelahnya. Entah kenapa hari itu terasa begitu tinggi naluri sex saya, padahal semalam baru saja saya bermain dengan Frida dan suaminya bertiga.
Terasa bagian vagina saya mulai basah. Sayapun akhirnya berusaha membuka celana Aris dan dengan mudah bisa terbuka dan bersama celana dalamnya saya tarik kebawah hingga penisnya tampak jelas. Perlahan lahan saya mainkan penisnya, dia sudah seperti bapaknya saja. Penisnya keras sekali terasa. Kemudian Aris saya dorong dia duduk di kursi bar dan saya berlutut. Saya mulai mainkan penis Aris dengan mulut. Ketika pertama kali masuk kemulut, terasa penisnya bergetar dan spertinya Aris begitu menikmati seakan belum pernah mengalami hal yg demikian. Ketika saya hisap beberapa kali, dia sdikit mengeluarkan suara dan menggenggam pudak saya. Dari ujung penisnya terasa banyak sekali keluar cairan asin terus menerus. Saya tahu dia tidak bisa lama lama. Ketika sedang menikmati oral itu tiba tiba pembantu rumah Frida masuk ke ruang keluarga dan dari jarak agak jauh dia mengatakan ke Aris bahwa supir saya sudah datang menjemput. Dari balik meja bar saya yg sedang berlutut tidak terlihat sehingga pembantu menyangka hanya ada Aris yang sedang duduk di sana. Pembantunya tadinya sudah mau ke kamar tamu mau memanggil saya, tapi segera Aris memotongnya dan dia bilang biar dia yg memanggilnya dan dengan nada agak maksa pembantunya disuruh keluar dari ruangan keluarga.
Setelah di dengar pembantu sudah tidak di ruangan keluarga kemudian saya berhenti mencium penis Aris dan berdiri. Saya pandang mata Aris dan saya bilang sudah ya….
Kelihatan muka Aris sedikit kecewa. Saya terus meninggalkan dia dan menuju kamar tamu tempat tadi malam saya tidur untuk mengambil tas yg masih di ruangan itu. Di kamar tamu itu saya sedikit merapihkan pakaian yg sedikit sudah kusut dan menyisir rambut. Sebenarnya saya ada rasa tidak enak juga karena harus mendadak berhenti, perasaan hati ini tidak tenang, seakan tensi darah masih tinggi.
Tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk, saya menjawabnya dan ternyata Aris yg mengetuk. Dia membuka pintu pelan pelan dan sedikit agak ragu, terus saya suruh masuk dia ke kamar. Aris masuk dan hanya berdiri di dekat pintu. Dia minta maaf atas kejadian tadi karena merasa tidak sopan dan minta jangan dilaporkan ke orang tuanya, dia mengaku sudah tidak tahan dan sabar lagi ketika di meja bar bersentuhan untuk mengambil kotak obat. Terlihat mukanya agak pucat dan sedikit ketakutan. Saya jadi kasihan dan iba dengan Aris.
Saya suruh Aris pintu kamar ditutup yg rapat dan dikunci. Kemudian dia saya suruh mendekat dan saya berdiri dari tempat tidur. Di depan saya Aris hanya menunduk saja, mungkin takut akan dimarahi oleh saya. Kemudian saya peluk Aris dan dengan suara pelan saya bilang ke dia bahwa saya tidak akan laporkan ke orang tuanya. Ketika berpelukan saya merasakan penisnya masih tegang dibalik celananya. Dengan suara pelan mendekati berbisik, saya minta dia membukakan kancing celana jeans yg saya pakai dan resletingnya. Dengan agak ragu ragu dia melepaskan kancing celana saya berikut resletingnya. Saya merasakan bagian bawah sudah basah dari tadi. Kemudian saya berbaring terlentang di atas tempat tidur dan menunggu Aris menghampiri saya. Seperti sudah diberi lampu hijau, Aris dengan tergesa gesa melepas celananya, dam memang ketika celananya dilepas terlihat penisnya sudah begitu tegang. Dia segera naik ke tempat tidur dan seakan mau menerjang saya. Tetapi ketika dia memeluk saya dan berusaha membuka kancing baju saya, saya katakan agar pelan pelan dan jangan tergesa gesa. Dia begitu nafsunya menciumi payudara saya, dan terasanya pinggulnya bergerak kekiri kekanan seakan mencari posisi yg tepat untuk masuk ke saya. Penisnya segera saya pegang dan saya tunjukkan ke mulut vagina. Seperti sudah mengetahinya saja, Aris segera mendorong pinggulnya dan secepat itu pula penisnya masuk kedalam vagina. Saya sempat mengelurkan suara ketika penisnya masuk, karena begitu merangsang.
Sepertinya Aris sudah pernah melakukan hubungan sex, terasa gerakan pinggulnya begitu membuat saya nikmat, awalnya saya masih bisa mengontrol diri. Saya biarkan dia yg aktif bergerak, hanya kadang kadang saja saya jepit penisnya. Begitu menggebu gebu dia, tapi itupun tidak bisa bertahan lama. Akhirnya dia mengeluarkan suara agak keras dan bersamaan dengan itu terasa penisnya bergetar berkali kali, terasa dari penisnya keluar cairan yg panas berkali kali menekan ke dalam vagina, banyak sekali dia mengeluarkan spermanya dan begitu kental, terasa setelah selesai ketika penisnya keluar dari vagina, cairannya banyak keluar kembali. Begitu perhatiannya dengan saya, Aris segera membuka baju kaosnya dan membersihkan punyanya yg keluar dari vagina saya, sementara itu saya masih terbaring dan nafas agak sesak seperti orang habis lari lari.
Ketika saya masuk mobil, terasa nafas saya masih cepat dan supir sempat menanyakannya, saya bilang tadi lari lari waktu mau masuk mobil. Di mobil saya cepat tertidur dan terasa nyenyak sekali tidurnya, ketika sampai rumah supir membangunkan saya.
Waktu masuk ke kamar, saya lihat suami lagi tidur terlentang dengan pulasnya. Saya dekati dia dan kening dan bibirnya saya cium dengan ringan. Dia kaget terbangun dan segera tersenyum sambil mengelus elus pipi saya. Dia tersenyum melihat baju yg saya pakai dan dia tanyakan baju yg sempit itu. Tidak lama saya bediri menuju kamar mandi untuk mandi. Ketika membersihkan vagina, sisa sperma Aris masih ada di dalamnya.
Setelah mengeringkan badan saya langsung menuju tempat tidur dan rebahan diatas suami saya. Dia tersenyum dan menciumi saya. Saya senganja menggoda dia supaya penisnya mengeras, kemudian sambil saya bercerita tentang banjir, dirumah Frida dan tentang Aris, penis suami saya masukkan kedalam vagina dan sedikit pinggul saya gerakkan. Kami tidak melakukan sex sampai selesai. Setelah selesai cerita, saya rebahan di samping suami dan kami tertidur.

Advertisements

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

antara nafsu dan cinta   Leave a comment

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang “Witing tresno jalaran soko kulino” Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

“San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak”, bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
“Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi”, jawabnya manja.
“Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang” jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
“Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak”, air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
“Bapak tidak akan meninggalkan Santi”, janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
“Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak..”
“Santi tidak mengerti, Pak!”
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
“Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?”
“Belum, Ppak..”

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

“Pak… nikmat, teruskan…” erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
“Kenapa, Pak?” tanya Santi keheranan.
“Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja.”
“Tidak mau! Santi takut.”
“Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi”, aku merayunya.
“Santi tidak akan mau, Pak!” tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
“Bapak marah ya sama Santi.”
“Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing.”
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
“Kenapa?” tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang ‘on’, Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
“Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang” ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. “Jangan berisik, Sayang” aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. “Jangan Pak, yang satu itu jangan..” Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
“Kenapa?” bisikku, “Santi tidak sayang sama Bapak?”
“Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!”
“Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman.”
“Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak.”
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
“Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?” aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
“Santi belum pernah, Pak!”
“Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak.”
“Iya Pak”

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
“Aw… besar banget Pak.”
“Nggak apa, sini” aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

“Pak, tangan Santi capek, Pak!” tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
“Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi”, sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
“Loh, Bapak kan lelaki”
“Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme” Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

“Terus, San… Bapak mau keluar” Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
“Sudah San, Bapak sudah keluar”, aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
“Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan.”
“Bapak lama sih keluarnya.”
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

aku dipaksa main bertiga   Leave a comment

Saat itulah saya secara tidak sengaja menemukan adanya homepage ini di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak cerita yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.

Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim cerita ini. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.

Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.

Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.

Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah. Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas ‘alat’-nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya.

Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah. Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.

Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran. Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.

Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu. Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman.

Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya. Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.

Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya. Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.

Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur. Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya.

Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak ‘hidup’ begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya. Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim.

Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih. Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntun wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya.

Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis. Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada vagina saya.

Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.

Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.

Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.

Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh enak sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.

Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang ‘menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.

Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya. Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang no way. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi ‘seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya.

Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya didalam, dimana ada stokingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans diluar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh diluar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny (?) sekali. Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.

Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy. Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kencantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera.
Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy. Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini.

Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Hari. Kami ngobrol panjang lebar. Hari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Hari memiliki band yang sering main di pub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Hari sebagai teman.

Hari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Hari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya. Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi.

Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Hari. Padahal Hari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi. Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.

Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya. Kini kami melakukannya dalam ‘missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak.

Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam vagina saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mmm, permainan dimulai kembali rupanya. Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghujam-hujam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri.

Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya. Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya.

Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin

‘Mesin’ saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy. Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghujamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.

Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini. Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghujamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak perduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat.

Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya. Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah.. Saya menoleh ke belakang. Hari! Hari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi Hari menahan saya. Tangannya mencengkram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah mau menangis saja.

Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus. Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Hari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Hari memeluk kami bertiga.

Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk diantara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung diluar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.

Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada ‘dog style position’. Roy menyorongkan penisnya ke bibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Hari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya. Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghujam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Hari yang mengatur segala gerakan.

Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.

Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil menangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya. Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Hari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri.

Sejak saat itu, Hari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.

Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa ‘threesome’ adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan ‘someone special’. Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak perduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.

Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap. Itu adalah ‘candle light dinner’ saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya..

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

aku dan 4 wanita   Leave a comment

Semalam aku melayani 4 wanita Hai aku rhom, ada cerita ni khusus buat cewek, begini ceritanya : waktu itu aku sedang mencari pekerjaan dijakarta dan aku lagi nungguin mobil tiba2 ada sebuah mobil mewah berhenti yang ternyata didalamnya ada seorang cewek cantik lalu dia bertanya:”lagi nungguin mobil ya?iya, jawabku singkat, mendingan ikut aja ama tante sekarang?entah kenapa aku rasanya terhipnotis atas ajakanya itu hingga aku mau aja diajak olehnya. Oh ya didalam perjalanan setelah aku kenalan cewek itu namanya tante susan orang cina umurnya 35 tahun kerjanya sebagai direktur sebuah perusahaan dijakarta milik almarhum suaminya yang meninggal 1 tahun yg lalu dan tak terasa kami ngomong panjang lebar tentang apa saja sampai-sampai mengenai rahasia pribadinya. Lalu tante susan ngomong: “rhom sekarang kamu mau kemana?” “aku…sejenak diam, dalam hatiku aku harus kemana sedangkan aku belum mendapat pekerjaan, tiba-tiba aku terkejut”, “loh…ditanya kok diam sih”sekarang kamu inginnya kemana, katanya?kemudian aku jawab: “terserah tante deh kemana maunya”ya gitu dong. Mendingan sekarang kita ke villa tante aja yah, disana tempatnya enak lo?lalu aku hanya mengangguk aja.

Dan tanpa terasa kami sampai di Villa milik tante susan, wah…aku terkejut melihat villa semewah dan sebesar itu dengan halamannya yang luas dan indah. “rhom ..ayo masuk sini, iya tante? Lalu kami masuk kerumahnya. Waktu itu sampai divilla sekitar jam 9 malam dan ternyata divilla tersebut sudah ada dua anak perempuannya yang masih muda dan cantik-cantik. Eh..ehh.. ternyata anaknya tersebut lagi asyik-asyiknya nonton Blue Film(film porno), terus ibunya bertanya: “kamu lagi nonton apa? Ii…tuu…film…sambil matiin TVnya, kenapa dimatikan TVnya,kalian kan udah pada gede dan lagian ibu juga pengen nonton dah lama,kata ibunya lagi? “iya kan rhom?balik nanya padaku?aku hanya bisa diam dan hanya mengangguk aja.” Yang akhirnya kami berempat nonton BF bersama-sama, kaset demi kaset dan adegan demi adegan kami lewati dengan serius. Dan tiba-tiba tante susan ngomong: “waw…filmnya seru sekali aku jadi pengen gituan,” dalam hatiku berkata: “tante kan ada aku, jadi kita bisa praktekan langsung sekarang” tapi aku gak berani takut tante susan marah dan malu pada kedua anak perempuannya. sedangkan…oh ya nama anaknya tante susan itu adalah mbak angel dan mbak sherly hanya bisa terbengong aja mendengar ucapan ibunya itu.

Tiba-tiba tante susan mendekatiku langsung ia memeluk dan mencium bibirku dengan semangatnya dan aku tak bisa mengelaknya saking hebatnya dia memelukku serta aku juga sebenarnya sudah terangsang dengan film yang diTV makanya aku balas aja ciuman dan rabaanya dan tanpa disadari kami berdua sudah bertelanjang bulat, aku melihat pada kedua anaknya, mereka hanya bisa tersenyum melihat apa yang kami lakukan berdua dan saya kelihatan anaknya kakak beradik juga udah terangsang dengan adegan BF tersebut. “Rhom … pinjam kontolmu sayang ya?” ditengah-tengah pergumulan kami,lalu aku jawab “tante kita entotan dikamar tante aja yah” “gak mau, tante dah gak tahan lagi nih, kurang lebih 1 tahun tante gak nyobain kontol lagi, please ya sayang aku pengen kontolmu, aku mohon kasihinilah aku ya rhom sayangku?”.

Tante susan terus aja merayuku yang akhirnya aku turuti kemauannya, apalagi dia bilang aku akan dikasih pekerjaan yang enak dan gajinya besar pokoknya bakal senang deh lagi-lagi yang paling mengejutkan aku, tante susan bilang “kalau kamu ingin atau mau kedua anak saya, kamu juga boleh ngewe keduanya masih perawan lo!kata tante susan?”. “Baiklah tanteku sayang aku akan entot memek tante sampai puas,kataku?” “aduh…rhom terima kasih sekali, kamu emang orangnya baik dan pengertian akan keadaan wanita,jawabnya” sambil kami ngatur posisi entotan lalu dengan posisi tante susan terlentang dengan kedua pahanya diangkat keatas maka dengan sangat jelas terlihat belahan kemaluannya sangat enak dipandang lalu aku gak nunggu lama, langsung aja aku masukin kontolku keliang surga kenikmatannya, “bles..bleess….aww…ohhh…pelan-pelan sayang ya,katanya?iya, tenang aja tante?” Memang benar sekali memeknya itu udah lama gak dimasukin kontol lagi terbukti aku sampai tiga kali baru bisa masuk semua kontolku kedalam memeknya. “ooww…aaaww…ohh…yyahh…pas kontolku amblas semua kedasar memeknya, tahan dulu rhomku sayang katanya? Baru beberapa detik “Nah sekarang memekku udah siap tempur nih tolong genjot dan kucek-kucek seluruh isi memekku sampai aku sangat puas rhom, please ya kata tante susan?” mendengar komando tersebut maka aku dengan nafsu dan semangat sekali,

“plakk…plakk…oohh…yyes….eemhh….aawww….desahan kami berdua,” tante duh enak sekali ewean…me..mekk…tante enak, aahh…uuhhh….ohhh…desahku,” sama rhom kontol kamu wuh…oohh…ysss….emhh….uuhh…aaahhh…enak banget aa…kuu….bisa-bisa… jadi ketagihan kontolmu rhom?” sama tante aku juga, jawabku?” “lalu aku lihat kesamping kananku, anak tante susan, mbak angel dan mbak sherly ternyata sudah pada bugil mereka saling berciuman dan saling jilat memeknya masing2, melihat mereka berdua maka aku lebih mempercepat kocokanku agar segera orgasme dan langsung untuk mengambil jatah keperawanan dari kedua anak tante susan supaya kita impas karena aku juga masih perjaka yang kini sedang dirasain oleh ibunya,pikirku dalam hati?” “oohh…rhom…aaakuu….mmaa..uuu…keluar sayang desahnya, tahan tante kita bareng keluarnya kataku?” “uuhh…aahh…tantee…aakuu….juga sama mau keluar nih, dimana dikeluarkannya tante?” “Didalam aja lah biar lebih nikmat dan enak katanya?” “yang akhirnya kami orgasme secara bersamaan cret…crett….croott…crootttt…..aaahhhh…..oohh…..nikmat sekali rhom, makasih banyak yah? sama kok tante aku juga?” “nah sekarang sini aku kulum dulu kontolmu itu, kasihan tuh anak tante, masak ibunya entotan anaknya tidak, katanya?” mendengar omongan ibunya tersebut, kedua anaknya langsung bicara, tapi entah kenapa keduanya bersamaan menjawab atau apa mungkin mereka sudah gak tahan ingin ngerasain yang sebenarnya kali, bicaraku dalam hati? “ah…yang bener bu?

Iya..anakku sayang kalian berdua boleh entotan dengan rhom, kontolnya eenaaakkk banget gak bisa dibayangin deh, ibumu ini kan dah ngerasain barusan nah sekarang tinggal giliran kalian, kata ibunya?” “makasih banyak ya bu, ibu sangat baik sekali kata mba sherly kakaknya,” terus adiknya juga mbak angel menjawab “aku juga sama bu?” yang selanjutnya aku entotan dengan kedua anaknya yang masih perawan dan benar sekali kedua memek mbak sherly dan mbak angel saat aku ngewe keduanya keluar darah segar yang masih hangat dan membuatku terasa terbang melayang ke langit ketujuh serta ketika kami bertiga orgasme, aku selalu mencabut kontolku dari memek mereka berdua dan langsung aja aku berikan air maniku ke tante susan yang sisanya lagi baru dibersihin sampai mengkilat dan tegang lagi oleh anaknya karena aku gak mau kalau anak yang masih muda dan cantik hamil dan juga mereka masih sekolah lagi. Ketika kami berempat lagi asyik-asyiknya istirahat tiba ada yang mengentuk pintu yang ternyata temen bisnisnya tante susan yaitu tante sarah, eh..ehh ternyata tante sarah juga seorang janda muda kaya yang baru sebulan ditinggal suaminya. “Hai … kelihatannya kalian udah pada entotan ya, kok gak ngajak aku sih sus,kata tante sarah?” “habis ini mendadak sih, kata tante susan?tapi aku boleh gabung kan?jawabnya lagi” Ya jelas boleh dong tante, jawab mbak sherly? “loh…!!kalian juga tadi entotan?” Habis aku gak tahan sih lihat film BF dan lagi-lagi lihat langsung ibuku ewean dengan mas rhom, enak sekali loh tante,kata adiknya, mbak angel?” mendengar ucapan tersebut akhirnya tante sarah membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, aku pinjam dulu ya sus kontol temanmu ini kata tante sarah? langsung aja dia menggumuliku dan aku juga balas dengan sama. “ Rhom sekarang giliran tante sarah dong, yah! Aku pengen ngerasain kontol kamu, seperti mereka bertiga, aku juga sama tante jawabku?” dan tanpa disuruh dia langsung menungging membelakangai saya, cepat sayang masukan kontolmu pintanya?

“bles…blesss….bleess….ooohh…aahh…akhirnya aku ngerasain memeknya tante sarah, ouuhh…aahh…oohh….yyess….good….terus…trusss…sayang kocok trus…lebih dipercepat rhom….pintanya? baik tante?” wow…dalam hatiku aku seperti seorang raja yang sedang melayani istri2nya. Yang akhirnya aku dan tante sarah mencapai orgasme oohh….tanteku..aakuu…maa…uu…keluar ni….?didalam aja dikeluarinnya sayangku agar lebih enak sekali,kata tante sarah? “crott….croottt….creett….creettt……aahh….akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan yang tiada taranya,” “Tante sarah memang orangnya agak binal dalam soal ngentot, dia baru orgasme ketika aku menjilati memeknya yang nikmat, aku bangga sekali namun suatu saat akan kubalas kekalahan ini, cerocos dalam hatiku?” dan sungguh amat mengasyikan sekali aku dan keempat wanita tersebut kembali entotan sampai bener2 kami semua merasa puas, rasanya aku bagaikan aktor di film2 BF, 1 kontol melawan 4 memek, 2 memek perawan & 2 memek janda, sungguh beruntungnya aku ini serta diluar dugaanku dan yang sangat mengagetkan, aku dapat bertahan lebih dari 1 jam dan juga kontolku terasa lebih besar dan panjang kerena memang sebelum kami semua entotan lagi, tante sarah sempat mengoleskan sesuatu ke kontolku, mungkin ini yang jadi penyebabnya,pikirku dalam hati?”

“bayangin aja aku dibawah, kontolku sedang digarap oleh memeknya tante susan sedangkan mulutku disumpal dengan memeknya tante sarah dan memek milik mbak sherly dan mbak angel aku kucek-kucek sebelah kiri dan kanan, maka pembaca dapat kan membayangkannya posisi aku saat itu?” rasanya sangat lengkap sekali. posisi dari ke 4 memek wanita tersebut bergantian secara berurutan, serta dengan segala variasi entotan yang kami lakukan supaya adil dalam membagikan kontolku. Hari demi hari kulewatkan dengan entotan bersama jadi tiada hari tanpa ewean dan setiap aku ngewe selalu diolesi dulu dengan minyak oleh tante sarah entah obat apa aku gak tau serta tanpa terasa kontolku semakin panjang,besar,keras dan tahan lama kira kontolku Panjang.24 CM&Besar.5 CM serta lama entotan semakin lama hampir mencapai 3 jam, sungguh sangat luar biasa aku juga hampir tidak percaya tapi memang begitulah buktinya, aku sungguh sangat bahagia sekali punya kontol yang hebat itu, Jadi kami berlima dapat ewean dengan berbagai gaya dan berbeda tempat, dikamar tidur,halaman rumah, dikolam renang, didapur, kamar mandi dsb. Dan tanpa terasa entotan kami berlangsung, terus pas giliran yang terakhir yaitu mbak angel yang lagi enak-enaknya memainkan kontolku, memek kakaknya mbak sherly sedang aku jilati habis2an sedang tante susan dan tante sarah sedang aku rangsang dengan kedua tanganku sebelah kiri&kanan, tiba ada yang ngebangunin aku, rhom…rhom… bangun udah siang ni kita akan kekampus, kata temanku?”

“pas aku bangun aku tidak melihat 4 cewek cantik Chinese yang kaya tersebut,sial!!kataku dalam hati?” karena aku memang malamnya habis nonton BF dengan temanku, ini cuma mimpi, tapi dalam hatiku berkata mudah-mudahan aja mimpiku ini bisa jadi kenyataan. Nah bagi para cewek2 & tante2 cantik, sexy, kaya, orang Chinese,pribumi dll, yang lagi kesepian dan maaf!!atau yang lagi memeknya gatal-gatal dan pengen dimasukin ama kontolku (entotan), aku akan melayaninya dengan senang hati dan berusaha dengan berbagai cara agar cewek2 & tante2 semua puas dan merasa ketagihan dengan pelayanan aku. “Tetapi perlu diingat aku masih perjaka tulen lo!!,gak percaya??? makanya buktikan yah?bener, suer!! Tapi ada syaratnya lo, kalau pengen ngewe ama aku?nanti aja yah, aku kasih tau, oke!!” hubungi aku secepatnya jangan sampai keduluan oleh orang lain,oke!!please ya aku mohon?” saya ucapkan banyak terima kasih kepada nyamuk.com yang telah mempublikasikan cerita ini dan juga kepada para pembaca yang memberikan informasi kepada saya mengenai keinginanku ini dan makasih juga atas semuanya. saya tunggu ya calling dan informasinya

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

aku dan tiga sepupuku   Leave a comment

Sebelumnya kuperkenalkan diri namaku Rudy tinggi 170 cm berat badan 55 kg umurku sekarang 20 tahun asalku dari Sragen sekarang aku telah masuk jenjang perguruan tinggi negeri di kota Solo.

Pengalaman seks yang pertama kualami terjadi sekitar 4 tahun lalu, tepatnya waktu aku masih duduk di bangku SMU kelas 1 berumur 16 tahun. Karena rumahku berasal dari desa maka aku kost dirumah kakakku. Saat itu aku tinggal bersama kakak sepupuku yang bernama Mbak Fitri berusia 30 tahun yang telah bersuami dan mempunyai 2 orang putri yang masih kecil-kecil, namun di tempat tinggal bukan hanya kami berempat tapi ada 2 orang lagi adik Mbak Fitri yang bernama Wina waktu itu berumur 19 tahun kelas 3 SMK dan adik dari suami kak Fitri bernama Asih berusia 14 tahun.

Kejadian tersebut terjadi karena seringnya aku mengintip mereka betiga saat mandi lewat celah di dinding kamar mandi. Biarpun salah satu dianatara mereka suadah berumur kepala 3 tapi kondisi tubuhnya sangat seksi dan menggairahkan payudaranya montok, besar dan belahan vaginanya woow…terlihat sangat oh…oooght nggak ku-ku bo…

Saat malam hari saat aku tidur dilantai beralaskan tikar, di ruang tamu yang gelap bersama Mbak Wina, awalnya sich aku biasa-biasa saja tapi setelah lama seringnya aku tidur bersama Mbak Wina maka aku akhirnya tak tahan juga. Malam-malam pertama saat dia tertidur pulas aku cuma berani mencium kening dan membelai rambutnya yang harum. Malam berikutnya aku sudah mulai berani mencium bibirnya yang seksi mungil, tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang padat berisi lalu memijat-mijat vaginanya yang, oh ternyata empuk bagai kue basah yang……oh…oh.., aku melihat matanya masih terpejam pertanda ia masih tertidur tapi dari mulutnya mendesah dengan suara yang tak karuan.

“Ah…..ught…..hhhhhh….hmmmm” desahan Mbak Wina mulai terdengar.
Tanganku terus bergerilya menjamah seluruh tubuhnya.saat aku menciumi vaginanya yang masih tertutup calana, ia mulai terbangun aku takut sekali jangan-jangan ia akan berteriak atau marah-marah tapi dugaan ku meleset.
Ia malah berkata, ”Dik teruskan….. aku sudah lama mendambakan saat-saat seperti ini ayo teruskan saja……..”
Bagai mendapat angin segar aku mulai membuka t-shirt yang ia gunakan kini terpampang buah dada yang seksi masih terbungkus BH. BH-nya lalu kubuka dan aku mulai mengulum putingnya yang sudah mengeras gantian aku emut yang kiri dan kanan bergantian.

“Mbak, maafkan aku tak sanggup menahan nafsu birahiku!”
“Nggak apa-apa kok dik aku suka kok adik mau melekukan ini pada mbak karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini” jawab Mbak Wina.
Setelah puas kupermainkan payudarnya lalu aku mulai membuka rok bawahannya.biarpun kedaan gelap gulita aku tahu tempat vagina yang menggiurkan, terus kubuka CD nya, lalu kuciumi dengan lembut.
“Cup…cup…sret…. srettttttttttt”, suara jilatan lidahku.
“Ought……ought….terus dik enak…..!!!”
Karena takut ketahuan penghuni rumah yang lain aku dengan segera mengangkan kedua kakinya lalu kumasukkan penisku yang mulai tegang kedalam vaginanya yang basah.

“Ehmm…oh…ehhhhh…. mmmmhhh”, rintih kakakku keenakan.
Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia.
“Crot..cret…crettttttt…. crettttttttttt”, akhirnya spermaku kukeluarkan di dalam vaginanya.
“Oh……”
Rupanya ia masih perawan itu kuketahui karena mencium bau darah segar.
“Terima kasih dik kamu telah memuaskan Mbak, Mbak sayang padamu lain kali kita sambung lagi yach?”
“Ok deh mbak”, sahutku.

Setelah selesai memakai pakaian kembali aku dan dia tidur berpelukan sampai pagi. Sebenarnya kejadian malam itu kurang leluasa karena takut penghuni rumah yang lain pada tahu,sehingga suatu ketika kejadian itu aku ulang lagi.
Masih ingat dalam ingatan hari itu minggu pagi,saat mbak Fitri dan adiknya Asih bersama keuarga yang lain pergi ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.Karena keadaan rumah yang sepi yang ada hanya aku dan Mbak Wina, aku mulai menutup seluruh pintu dan jendela. Kulihat Mbak Wina sedang menyeterika dengan diam-diam aku memeluknya dengan erat dari balakang.

“Dik jangan sekarang aku lagi nyetrika tunggu sebentar lagi yach…… sayang….!” pinta Kak Wina.
Tapi aku yang sudah bernafsu nggak memperdulikan ocehannya, segera kumatikan setrika, kuciumi bibirnya dengan ganas.
“Hm…eght…. hmmmmm……. eght…!”

Karena masih dalam posisi berdiri sehingga tak leluasa melakukan cumbuan, aku bopong ia menuju ranjang kamar.
Kubaringkan ia di ranjang yang bersih itu lalu segera kulucuti semua pakaiannya dan pakaian ku hinggas kami berdua telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel. Wow……tubuh kakakku ini memang benar sempurna tinggi 165 cm berat sekitar 50 kg sungguh sangat ideal, payudaranya membusung putih bagaikan salju dengan puting merah jambu dan yang bikin dada ini bergetar dibawah pusarnya itu lho……. bukit kecil kembar ditengahnya mengalir sungai di hiasai semak-semak yang rimbun.

Kami berdua tertawa kecil karena melihat tubuh lawan jenis masing-masing itu terjadi sebab saat kami melakukan yang pertama keadaan sangat gelap gulita tanpa cahaya. Sehingga tidak bias melihat tubuh masing-masing.
Aku mulai menciumi muka tanpa ada yang terlewatkan, turun ke lehernya yang jenjang kukecupi sampai memerah lalu turun lagi ke payudaranya yang mulai mengeras, kujilati payudara gantian kanan kiri dan kugigit kecil bagian putingnya hingga ia menggelinjang tak karuan.

Setelah puas bermain di bukit kembar tersebut aku mulai turun ke bawah pusar, ku lipat kakinya hingga terpampang jelas seonggok daging yang kenyal di tumbuhi bulu yang lebat. Lidahku mulai menyapu bagian luar lanjut ke bagian dinding dalam vagina itu, biji klitorisnya ku gigit pelan sampai ia keenakan menjambak rambutku.
“Ught..ugh…hah oh….oh…..”desahan nikmat keluar dari mulut Kak Wina.

Setelah kira-kira 15 menit aku permainkan vaginanya rasanya ada yang membanjir di vaginanya rasanya manis asin campur aduk tak karuan kusedot semua cairan itu sampai bersih, rupanya ia mulai orgasme. Mungkin saking asyiknya kami bercumbu tanpa kami sadari rupanya dari tadi ada yang memperhatikan pergumulan kami berdua, Mbak Fitri dan adik suaminya, Asih sudah berdiri di pinggir pintu. Mungkin mereka pulang berdua tanpa suaminya dan kedua anaknya yang masih mampir ke rumah Pakdhenya mereka ketuk pintu tapi nggak ada sahutan lalu mereka menuju pintu daur yang lupa tak aku kunci. Aku dan Mbak Wina kaget setengah mati, malu takut bercampur menjadi satu jangan-jangan mereka marah dan menceritakan kejadian ini pada orang lain. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan kami berdua, mereka bahkan ikut nimbrung sehingga kami menjadi berempat.

“Dik main gituan kok kakak nggak di ajak sich kan kakak juga mau, sudah seminggu ini suami kakak nggak ngajak gituan”, ucap Mbak Fitri.
“Ini juga baru mulai kak!” sahutku.
“Mas aku boleh nyoba seks sama Mas?” tanya Asih.
“Boleh”.
Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya.
“Ck.. ck…ck……ck……”, guman ku.
Sekarang aku dikerubung 3 bidadari cantik sungguh beruntung aku ini.

Mbak Fitri tubuhnya masih sangat kencang payudaranya putih agak besar kira-kira 36 B vaginanya indah sekali. Sedangkan Asih tubuhnya agak kecil tapi mulus, dadanya sudah sebesar buah apel ukuranya 34 A vaginanya kelihatan sempit baru ditumbuhi bulu yang belum begitu lebat. Pertama yang kuserang adalah Mbak Fitri karena sudah lama aku membayangkan bersetubuh dengannya aku menciumi dengan rakus pentilnya kuhisap dalam-dalam agar air susunya keluar, setelah keluar kuminum sepuasnya rupanya Mbak Wina dan Asih juga kepingin merasakan air susu itu sehingga kami bertiga berebut untuk mendapatkan air susu tersebut, sambil tangan kami berempat saling remas, pegang dan memasukam ke dalam vagina satu sama lain.

Setelah puas dengan permainan itu, aku meminta agar mereka berbaring baris sehingga kini ada 6 gunung kembar yang montok berada di depanku. Aku mulai mengulum susu mereka satu per satu bergantian sampai 6, aku semakin beringas saat kusuruh mereka menungging semua, dari belakang aku menjilati vagina satu persatu rasanya bagai makan biscuit Oreo di jilat terus lidahku kumasukkan ke dalam vagina mereka.

Giliran mereka mengulum penisku bergantian.
“Hoh…. hoooooooooo…… hhhhhhhhhh…… ehmmmmmmmmm”, desah mereka bertiga.
Aku yang dari tadi belum orgasme semakin buas memepermainkan payudara dan vagina mereka, posisi kami sekarang sudah tak beraturan. Saling peluk cium jilat dan sebagainya pokok nya yang bikin puas, hingga mereka memberi isyarat bahwa akan sampai puncak.
“Dik aku mau keluar”
“Mas aku juga”
“Aku hampir sampai”, kata mereka bergantian.
“Jangan di buang percuma, biar aku minum!”, pintaku
“Boleh”, kata Mbak Fitri.
Aku mulai memasang posisi kutempelkan mulutku ke vagina mereka satu persatu lalu kuhisap dalam-dalam sampai tak tersisa, segarnya bukan main.
“Srep.., srep”.
Heran, itulah yang ada di benakku, aku belum pernah nge-sex sama mereka kok udah pada keluar, memang mungkin aku yang terlalu kuat.

Karena sudah tidak sabar aku mulai memasukkan penisku de dalam vagina Mbak Wina kugenjot naik turun pinggulku agar nikmat, sekitar 5 menit kemudian aku gantian ke Kak Fitri, biarpun sudah beranak 2 tapi vaginanya masih sempit seperti perawan saja.
“Dik enak……. Uh…… oh…..terussssssss!”, desahnya.
“Emang kok Kak…….. hhhhhhh ehmm…..”
“Mas giliranku kapan..?”, rupanya Asih juga sudah tak tahan.
“Tunggu sebentar sayang.“

Sekitar 10 menit aku main sama kak Fitri sekarang giliran Asih, dengan pelan aku masukkin penisku, tapi yang masuk hanya kepalanya. Mungkin ia masih perawan, baru pada tusukan yang ke 15 seluruh penisku bisa masuk ke liang vaginanya.
“Mas……. sakit….. mas…… oght…….. hhohhhhhh…….”, jerit kecil Asih.
“Nggak apa-apa nanti juga enak, Sih!”, ucapku memberi semangat agar ia senang.
“Benar Mas sekarang nikmat sekali… oh.. ought..”

Rupanya bila kutinggal ngeseks dengan Asih, kak Fitri dan Kak Wina tak ketinggalan mereka saling kulum, jilat dan saling memasukkan jari ke vaginanya masing-masing. Posisiku di bawah Asih, di atas ia memutar-mutar pinggulnya memompa naik turun sehingga buah dadanya yang masih kecil terlihat bergoyang lucu, tanganku juga tidak tinggal diam kuremas-remas putingnya dan kusedot, kugigit sampai merah.

Karena sudah berlangsung sangat lama maka aku ingin segera mencapai puncak, dalam posisi masih seperti semula Asih berjongkok di atas penisku, kusuruh Mbak Fitri naik keatas perutku sambil membungkuk agar aku bisa menetek, eh…, bener juga lama-lama air susunya keluar lagi, kuminum manis sekali sampai terasa mual. Mbak Wina yang belum dapat posisi segera kusuruh jongkok di atas mulutku sehingga vaginanya tepat di depan mulutku, dan kumainkan klitorisnya.
Ia mendesah seperti kepedasan.

“Ah……… huah…….. hm…….!”
Tanganku yang satunya kumasukkan ke vagina Mbak Fitri, kontolku digarap Asih, mulutku disumpal kemaluan Mbak Wina, lengkap sudah.
Kami bermain gaya itu sekitar 30 menit sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan.
“Ought……… hmmmmmm…… cret… crot…..”
“Enak Mas…….!” desah Asih.
Spermaku ku semprotkan kedalam vagina Asih dan keluarlah cipratan spermaku bercampur darah menandakan bahwa ia masih perawan. Kami berempat sekarang telah mencapai puncak hampir bersamaan, lelah dan letih yang kami rasakan.
Sebelum kami berpakaian kembali sisa-sisa sperma di penisku di jilati sampai habis oleh mereka bertiga. Setelah kejadian itu kami selalu mengulanginya lagi bila ada kesempatan baik berdua bertiga maupun berempat.

Namun sekarang kami sudah saling berjauhan sehingga untuk memuaskan nafsu birahiku aku sering jajan di kafe-kafe di kota Solo ini ataupun dengan teman-teman wanita di tempat kuliah yang akrab denganku. Tapi tak satu pun dari mereka yang menjadi pacarku. Nah, bagi teman-teman yang ingin berkenalan silakan kontak emailku. Pasti aku balas.

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

akibat film porno   Leave a comment

Namaku Iwan (nama samaran). Aku itu sudah kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku tinggal masih bareng orangtua dan adikku yang masih SMP, Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adikku dan aku saja, sama pembantu.

Pada waktu sore rumah sedang kosong, orangtua sedang pergi dan kebetulan pembantu juga sedang tidak ada. Adikku sedang pergi. Aku menyewa VCD BF XXX dan X2. Aku senang sekali, karena tidak ada gangguan pas sedang nonton. Cerita X2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang seks antara adik dan kakak. Gila sekali deh adegannya. Kupikir kok bisa ya. Eh, aku berani tidak ya melakukan itu sama adikku yang masih SMP? tapi kan adikku masih polos sekali, kalau di film ini mah sudah jago dan pro, pikirku dalam hati. Sedang nonton plus mikir gimana caranya melakukan sama adikku, eh, bel berbunyi. Wah, teryata adikku, si Dina sama temannya datang. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung kusimpan saja tuh VCD, terus kubukakan pintu. Dina sama temannya masuk. Eh, temannya manis juga loh.
“Dari mana lo?” tanyaku.
“Dari jalan dong. Emang kayak kakak, ngedekem mulu di rumah,” jawabnya sambil manyun.
“Aku juga sering jalan tau, emang elo doang. Cuman sekarang lagi males,” kataku.
“Oh iya, Kak. Kenalin nih temenku, namanya Anti, temen sekelasku,” katanya.
Akhirnya aku kenalan sama itu anak. Tiba-tiba si Dina tanya, “lihat VCD Boyzone aku tidak?”
“Tau, cari saja di laci,” kataku.
Eh, dia membuka tempat aku menaruh VCD BF. Aku langsung gelagapan.
“Eh, bukan di situ…” kataku panik.
“Kali saja ada,” katanya.
Telat. Belum sempat kutahan dia sudah melihat VCD XXX yang covernya lumayan hot itu, kalau yang X2 sih tidak pakai gambar.
“Idih… Kak. Kok nonton film kayak begini?” katanya sambil memandang jijik ke VCD itu.
Temannya sih senyam-senyum saja.
“Enggak kok, aku tadi dititipin sama temanku,” jawabku bohong.
“Bohong banget. Ngapain juga kalo dititipin nyasar sampe di laci ini,” katanya.
“Kak, ini film jorok kan? Nnnggg… kayak apa sih?” tanyanya lagi.

Aku tertawa saja dalam hati. Tadi jijik, kok sekarang malah penasaran.
“Elo mao nonton juga?” tanyaku.
“Mmmm… jijik sih… tapi… penasaran Kak…” katanya sambil malu-malu.
“Anti, elo mao nonton juga tidak?” tanyanya ke temannya.
“Aku mah asyik saja. Lagian aku udah pernah kok nonton film kayak begitu,” jawab temannya.
“Gimana… jadi tidak? keburu mama sama papa pulang nih,” desakku.
“Ayo deh. Tapi kalo aku jijik, dimatiin ya?” katanya.
“Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar,” jawabku.

Lalu VCD itu aku nyalakan. Jreng… dimulailah film tersebut. Aku nontonnya sambil sesekali memandangi adikku dan temannya. Si Anti sih kelihatannya tenang nontonnya, sudah “expert” kali ya? Kalau adikku kelihatan begitu baru pertama kali nonton film seperti begitu. Dia kelihatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun. “Ih, jijik banget…” kata Dina. Pas adegan ML sepertinya si Dina sudah tidak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.
“Yeee, malah kabur,” kata Anti.
“Elo masih mao nonton tidak?” tanyaku ke si Anti.
“Ya, terus saja,” jawabnya.
Wah, boleh juga nih anak. Sepertinya, bisa nih aku main sama dia. Tapi kalau dia marah gimana? pikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidak sampai ML ini. Sambil nonton, aku duduknya mendekat sama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu kucoba pegang tangannya. Pertama dia kaget tapi dia tidak berusaha melepas tangannya dari tanganku. Kesempatan besar, pikirku. Kuelus saja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati begitu. Wow, tampangnya itu lho, manis! Aku jadi ingin nekat. Waktu dia masih merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karena mungkin memang sudah jago, si Anti malah mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku dan bermain-main di dalam mulut. Sial, jagoan dia daripada aku. Masa aku dikalahin sama anak SMP sih. Sambil kami ber-French Kiss, aku berusaha masukkan tanganku ke balik bajunya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak begitu besar, tapi sepertinya sih seksi. Soalnya badan si Anti itu tidak besar tapi tidak kurus, dan tubuhnya itu putih.

Begitu ketemu buah dadanya, langsung kupegang dan kuraba-raba. Tapi masih terbungkus sama bra-nya. “Baju elo gue buka ya?” tanyaku. Dia ngangguk saja sambil mengangkat tangannya ke atas. Kubuka bajunya. Sekarang dia tinggal pakai bra warna pink dan celana panjang yang masih dipakai. Shit! kataku dalam hati. Mulus sekali! Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung kujilati payudaranya, dia mendesah, aku jadi makin terangsang. Aku jadi pingin menyetubuhi dia. Tapi aku belum pernah ML, jadi aku tidak berani. Tapi kalau sekitar dada saja sih aku lumayan tahu. Gimana ya? Tiba-tiba pas aku lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami sama-sama kaget. Dia kaget melihat apa yang kakak dan temannya perbuat. Aku dan Anti kaget pas melihat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pakai bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepertinya dia shock melihat apa yang kami berdua lakukan. Si Anti langsung pamit mau pulang. “Bilang sama Dina ya… sorry,” kata Anti. “Tidak apa-apa kok,” jawabku. Akhirnya dia pulang.

Aku ketuk kamarnya Dina. Aku ingin menjelaskan. Eh, dianya diam saja. Masih kaget kali ya, pikirku. Aku tidur saja, dan ternyata aku ketiduran sampai malam. Pas kebangun, aku tidak bisa tidur lagi, aku keluar kamar. Nonton TV ah, pikirku. Pas sampai di depan TV ternyata adikku lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kataku dalam hati. Gara-gara melihat dia tidur dengan agak “terbuka” tiba-tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum selesai kutonton, yang ceritanya tentang hubungan seks antara adik dan kakak, ditambah hasrat aku yang tidak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adikku menggerakan kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu melihat CD-nya aku jadi semakin nafsu. Tapi aku takut. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, aku peloroti saja CD-nya. Eh, nanti kalau dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan kemaluannya terlihat masih amat rapat dan dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmmm… halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba-tiba dia menggumam, aku jadi kaget. Aku merasa di ruang TV terlalu terbuka. Kurapikan lagi pakaian adikku, terus kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar dia, it’s show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmmm… nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun! “Kak… ngapain lo!” teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali, “Ngg… ngg… tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?” jawabku ketakutan. Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.
“Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi,” kataku.
“Jangan bilang sama mama dan papa ya, please…” kataku.
Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.

Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk “ngegituin” Dina. Sampai pada suatu hari, adikku sedang sendiri di kamar. Aku coba masuk,
“Din, lagi ngapain elo,” aku mencoba untuk beramah-tamah.
“Lagi dengerin kaset,” jawabnya.
“Yang waktu itu, elo masih marah ya…” tanyaku.
“….” dia diam saja.
“Sebenernya gue… gue… pengen nyoba lagi…” gila ya aku nekat sekali.
Dia kaget dan pas dia mau ngomong sesuatu langsung aku dekati mukanya dan langsung kucium bibirnya.
“Mmhhpp… Kakk… mmmhph…” dia seperti mau ngomong sesuatu.
Tapi akhirnya dia diam dan mengikuti permainanku untuk ciuman. Sambil ciuman itu tanganku mencoba meraba-raba dadanya dari luar. Pertama merasakan payudaranya diraba, dia menepis tanganku. Tapi aku terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba payudaranya, aku mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau saja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung kubuka bra-nya. Kujilati putingnya dan sambil mengusap dan mneremas-remas buah dada yang satunya. Walaupun payudara adikku itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan payudara yang besar. Ketika sedang dihisap-hisap, dia mendesah, “Sshh… ssshh.. ahhh, enak, Kak…” Setelah kuhisap, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Terus kubuka celanaku dan aku keluarkan “adik”-ku yang sudah lumayan tegang. Pas dia melihat, dia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng pas “punya”-ku masih kecil. Sekarang kan sudah besar dong.

Aku tanya sama dia, “Berani untuk ngisep punya gue tidak? Entar punya elo juga gue isepin deh, kita pake posisi 69.”
“69… apa’an tuh?” tanyanya.
“Posisi dimana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan,” jelasku.
“Ooo…”
Langsung aku membuka celana dia dan CD-nya. Kami langsung mengambil posisi 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya seperti bentuk kacang di dalam kemaluannya itu. Ketika kusentuh pakai lidah, dia mengerang,
“Ahhh… Kakak nyentuh apanya sih kok enak banget…” tanyanya.
“Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue dong. Masa elo doang yang enak,” kataku.
“Iya Kak, habis takut dan geli sih…” jawabnya.
“Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin saja keenakan elo,” kataku lagi.
Saat itu juga dia langsung menjilat punyaku. Dia menjilati kepala anu-ku dengan perlahan. Uuhhh, enak benar. Terus dia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu dia masukkan punyaku ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Oohh… gila benar. Dia ternyata berbakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.

“Stop… eh, Din, stop dulu,” kataku.
“Lho kenapa?” tanyanya.
“Tahan dulu entar aku keluar,” jawabku.
“Lho emang kenapa kalau keluar?” tanyanya lagi.
“Entar game over,” kataku.
Ternyata adikku memang belum mengerti masalah seks. Benar-benar polos. Akhirnya kujelaskan kenapa kalau cowok sudah keluar tidak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kami sudah tidak 69 lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku teruskan menghisapi kemaluannya dan klitorisnya. Dia terus menerus mendesah dan mengerang.
“Kak Iwan… terus Kak… di situ… iya di situ… oohh… ssshhh…”

Aku terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambutku. Sambil matanya merem-melek. Akhirnya aku sudah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,
“Elo berani ML tidak?”
“…” dia diam.
“Gue pengen ML, tapi terserah elo… gue tidak maksa,” kataku.
“Sebenerya gue takut. Tapi sudah kepalang tanggung nih… gue lagi ‘on air’,” kata dia.
“OK… jadi elo mau ya?” tanyaku lagi.
“…” dia diam lagi.
“Ya udah deh, kayanya elo mau,” kataku.
“Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali,” kataku.
“…” dia diam saja sambil menatap kosong ke langit-langit.

Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Kelihatan bibir kemaluannya yang masih sempit itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu aku sentuhkan kepala “anu”-ku ke liang kemaluannya, Dina menarik nafas panjang, dan kelihatan sedikit mengeluarkan air mata. “Tahan ya Din…” Langsung kudorong anu-ku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit sekali. Aku terus mencoba mendorong anu-ku, dan… “Bleesss…” masuk juga kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,
“Akhhh sakit Kak…”
“Tahan ya Din…” kataku.
Aku terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua kemaluanku ke dalam selangkangan adikku sendiri.
“Ahhh… Kak… sakit Kak… ahh…”
Setelah masuk, langsung kugoyang maju-mundur, keluar masuk liang kemaluannya.
“Ssshhh… sakittt Kak… ahhh… enak… Kak, terusss… goyang Kak…”
Dia jadi mengerang tidak karuan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kami ganti dengan posisi “dog style”. Dina kusuruh menungging dan aku masukkan ke lubang kemaluannya lewat belakang. Setelah masuk, terus kugenjot. Tapi dengan keadaan “dog style” itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam kemaluannya itu seperti menarik batang kemaluanku untuk lebih masuk.

“Ahhh… ahhha… aku lemess banget… Kak,” rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi aku belum orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya untuk tidur terlentang. Terus kubuka lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Padahal dia sudah kecapaian.
“Kak, udah dong! Gue udah lemes…” pintanya.
“Sebentar lagi ya…” jawabku.
Tapi setelah beberapa menit kugenjot, eh, dianya segar lagi.
“Kak, yang agak cepet lagi dong…” katanya.
Kupercepat dorongan dan genjotanku.
“Ya… kayak gitu dong… ssshh… ahhh.. uhuuh,” desahannya makin maut saja.
Sambil menggenjot, tanganku meraba-raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba-tiba aku seakan mau meledak, ternyata aku mau orgasme. “Ahhh, Din aku mau keluar… ahhh…” Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Karena masih enak, kukeluarkan di dalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum pil KB saja supaya tidak hamil, pikirku dalam hati.

Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, aku dengsr dia lagi merintih sambil menangis.
“Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak,” tangisnya.
Kulihat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget melihatnya. Gimana nih jadinya?
“Kak, aku udah tidak perawan lagi ya?” tanyanya.
“…” aku diam saja.
Habis mau jawab apa. Gila! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.
“Kak, punyaku tidak apa-apakan?” tanyanya lagi.
“Berdarah begini wajar untuk pertama kali,” kataku.
Tiba-tiba, gara-gara melihat dia tidak pakai CD dan memperlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu-ku “On” lagi!

TAMAT

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^

threesome   Leave a comment

Semua ini berawal ketika pada suatu pagi seperti biasa aku bersih-bersih di ruang kerja suamiku, sementara suamiku sudah berangkat kerja, komputer masih dalam keadaan menyala dan ketika mousenya tersenggol secara tidak sengaja, tampak tampilan layar yang menunjukan banyak gambar telanjang. Aku menjadi tertarik dan penasaran. Setelah kuteliti, ternyata itu adalah file yang didownload dari sebuah situs yang dikhususkan bagi para suami dimana istrinya melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain dalam segala variasinya dan semuanya atas sepengetahuan dan persetujuan suaminya. Aku mulai membaca dan tanpa sadar, gairahku mulai naik.

Malam itu sehabis makan malam dan suamiku tengah bersantai dengan acara TV kesukaannya, kubawakan kopi manis lalu aku duduk di sampingnya dan dengan hati hati aku bertanya..

“Mas, tadi pagi kok pergi komputernya masih menyala?”
“Wah.. Aku lupa matiin ya? Soalnya tadi ada rapat jadi agak terburu-buru lupa periksa..”, jawabnya.
“Terus kok isinya begituan sih?”, tanyaku.
Suamiku tampak memerah wajahnya dan dengan lirih menjawab sambil bertanya, “Mama marah..?”
“Nggak.. Cuma heran saja.., Maaf ya Mas, bukannya aku dengan sengaja memeriksa, tapi karena terpampang begitu kan harus di off-kan, kalau sampai anak-anak melihat bagaimana?”, jawabku.
“Maafkan Mas ya”, suamiku bekata lagi.
“Mas.. Boleh tanya?”, tanyaku lagi.
“Hmm.. Masa nggak boleh?”, jawab suamiku.
“Kok isinya tentang wife swinging dan sejenisnya sih..?”, aku mulai berani bertanya.
“Memang kenapa..?”, tanyanya.
“Kok bukan pornografi yang umum.., gitu maksudku..”, tanyaku mendesak.
“Ok.. Boleh Mas terus terang..?”, suamiku bertanya dengan nada khawatir.

Dengan jantung berdegub kencang aku mengangguk dan suamiku menjelaskan bahwa selama bertahun tahun ia terobsesi pada aktifitas sex dimana seorang istri melakukan hubungan dengan laki-laki lain atas sepengetahuan dan seijin bahkan di depan suaminya atau melakukannya bersama-sama dengan mengundang pihak ketiga, dan bahwa situs-situs tersebut digunakan untuk memancing gairahnya sehingga selalu bersemangat melayaniku. Ia juga mengatakan bahwa ia selalu berimajinasi membayangkan bagaimana kalau aku melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain.

Sebagai seorang istri berusia 35 tahun (dengan 2 orang anak, yang besar sudah berusia 8 tahun sementara yang kecil 4 tahun), kesibukanku hanya terbatas pada mengurus rumah tangga, mengantar anak sekolah, fitness, dan arisan walau dulu aku sempat aktif waktu kuliah dan sempat bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan besar, namun sejak menikah 10 tahun yang lalu, kegiatanku hanya seputar rumah tangga, dengan pernikahan yang berjalan dengan baik, suamiku seorang wiraswastawan yang berhasil dengan penghasilan lumayan besar. Kami memiliki aktifitas seksual normal, dalam arti kata aku maupun suamiku sama-sama mampu memuaskan pasangan masing-masing hingga aku agak terkejut bahkan agak marah dan merasa aneh, kok bisa begitu?

“Jangan-jangan Mas ingin menjebakku supaya Mas juga bebas berselingkuh sama wanita lain. Atau Mas sudah punya simpanan lain?”, aku bertanya dengan nada agak tinggi.
“Wah kok mikir sejauh itu sih?”, jawabnya.
“Coba deh Mama baca semua penjelasan yang ada, hal itu ternyata normal kok secara psikologis, dan ada dasar ilmiahnya, bahkan pada pasangan yang terbuka seperti itu angka perceraian hampir 0% lho”, jawabnya diplomatis

Pagi harinya kucoba menelusuri seluruh isi file yang kemarin dan memang ternyata suamiku tidak bohong, banyak sekali contoh kasus, cerita dan lainnya yang ada disana didownload dari berbagai sumber dan tidak semuanya pornografi. Ada juga yang sangat ilmiah, dan aku mempercayai suamiku bahwa ia memang benar terobsesi dengan hal tersebut.

“Mas.., aku sudah memenuhi permintaan Mas untuk membaca dan mencari informasinya, tapi masa sih.. obsesinya seperti itu.. Apa nggak ada cara supaya jangan seperti itu..?”, aku membuka percakapan tentang hal tersebut ketika kami sedang berduaan.
“Sudahlah.. Jangan dipikirin..”, jawabnya.

Tapi aku yang sekarang penasaran. Karena cerita dan lainnya yang kubaca pagi tadi sesungguhnya mengangkat gairahku tinggi sekali. Dan kubayangkan kalau saja..

“Bukan ‘gitu tapi kan aku juga mesti membantu Mas supaya hubungan kita jangan sampai terpengaruh.., apa yang bisa kulakukan..?”, ujarku setengan bertanya setengah menjawab.
“Mama mau.. kalau..”, suamiku berkata ragu-ragu.
“Mau apa..?”, tanyaku.
“Kalau kita mengajak orang lain dan bermain bersama..?”, tanyanya dengan lirih dan hati-hati.
“Wah.. Gila.. Nggak ah..”, jawabku dengan wajah merah, walau hatiku sebenarnya sangat tergelitik..
“Lagian siapa yang mau dengan ibu-ibu yang sudah tua sepertiku”, aku menjawab lagi dengan sedikit memancing.
“Heh.. Siapa bilang tua.., Mama masih sangat cantik dan sexy kok”, suamiku menjawab sambil mencubit mesra.

Memang sih aku juga tahu kalau aku masih menarik, dengan tinggi 162 cm, berat 50 kg, berkulit kuning langsat, BH berukuran 36 dan tubuh yang kujaga kesintalannya, aku masih menjadi perhatian saat berjalan di mal ataupun tempat ramai, banyak laki-laki yang memperhatikanku.

“Atau..”, suamiku tampak ingin berbicara sesuatu tapi tampak ragu.
“Atau apa.. Mas?”, tanyaku sambil menyenderkan tubuhku padanya.
“Ng.. Gimana kalau kita buat percobaan.. Sekalian melihat reaksiku.. Juga reaksi mama.., Tapi yang ringan dulu”, suamiku berkata lagi.
“Maksudnya gimana sih..?”, tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Gini.. Kita panggil pemijat laki-laki.. Kan cuma sebatas memijat.., tapi minimal kita bisa mengukur reaksi masing masing”, jelas suamiku lagi.
“Ah.. Nanti orangnya nggak bersih..”, kataku pura-pura mencoba menolak.., walau sebenarnya aku anggap ide suamiku tersebut sangat baik.
“Aku tahu kok, ada temen di kantor yang pernah coba, dia cerita pengalamannya dan diam-diam kucatat nomor telepon pemijat itu”, suamiku kini mulai bersemangat menjelaskan.
“Mau kan Ma..?”, tanyanya.

Wah rupanya ide ini sudah diatur lama, pantas saja semua sudah disiapkan. Tapi aku tidak mau tampak antusias.

“Terserah Mas saja.. Terus mau dimana pijatnya?”, tanyaku asal asalan.
“Di rumah saja.. Kan anak anak sudah tidur, kutelepon dia ya?”, suamiku benar benar bersemangat kini.
“Sekarang..?”, aku benar benar surprise, namun juga tak sampai hati merusak pancaran semangat suamiku.
“Iya.. Mama mau.. kan?”, tanyanya lagi seperti anak kecil.
“Ya.. Terserah Papa aja deh”, jawabku seakan pasrah.
“Tapi kalau orangnya nggak cocok jangan maksa ya”, aku melanjutkan.
“Jelas dong.. Masa kalau istriku tercinta nggak mau harus diperkosa?”, jawabnya dan lalu dengan sigap diambilnya HP lalu sibuklah dia bicara entah dengan siapa..
“Ma.. Jam 11.. Nanti orangnya datang..”, katanya menyusulku di dapur.
“Hm..”, jawabku sambil mengaduk gelas berisi kopi.
“Ya sudah sana.. biar kuselesaikan dulu pekerjaanku ini”, lanjutkuDengan bersiul gembira suamiku beranjak ke ruang kerjanya, sementara aku lalu mandi dan mempersiapkan diri, entah kenapa aku jadi berdandan dan mengenakan daster sutera yang membuatku tampak sexy, dengan belahan dada yang rendah, aku ingin tampil cantik, padahal siapa yang akan datang aku juga tidak tahu.

Ning.. Nong.., pada pukul 11 kurang sedikit bel rumah berbunyi dan suamiku bergegas keluar menyambut tamunya, sementara pembantuku sudah pada tidur, lagi pula sudah kupesankan kalau malam ini kami akan ada tamu tapi tidak perlu repot karena tamu tersebut adalah teman suamiku.

“Silakan Mbak”, suara Harry membuyarkan lamunanku.
“B.. Bagaimana caranya..?”, tanyaku agak nervous.
“Mbak berbaring saja.. Telungkup, mohon dasternya dibuka ya..?”, Harry berkata dengan lembut, namun profesional, tegas dan tidak tampak kurang ajar.

Aku lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar kami, dengan hati yang tidak karuan karena takut, tegang namun exciting kubuka dasterku, dan mengambil handuk yang kulilitkan di tubuhku. Aku kembali ke kamar dan langsung menelungkupkan diri di ranjangku.

Harry duduk di sampingku dan membuka handuk yang masih terlilit, lalu handuk itu digunakan untuk menutupi bongkahan pantatku. Aku masih mengenakan celana dalam, dan terasa dingin ketika tangannya mulai melumuri punggungku dengan lotion yang harum. Tangan kekar itu mulai mengurut perlahan namun mantap dan perlahan aku mulai merasa rilex, sementara kulirik suamiku yang duduk memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan rasa senang.

“Hmm.. Senang olah raga ya Mbak..”, tanya Harry.
“Badan Mbak kencang sekali..”, katanya lagi sementara tangannya tak berhenti memijat mulai dari bahu turun ke punggung.
“He.. Eh..”, jawabku sekenanya karena aku sungguh menikmati pijatan lembut namun bertenaga dari pria yang baru ketemu sekarang ini.

Kedua tanganku bergiliran juga diurutnya dan entah sudah berapa lama ketika kurasakan tangan itu mengangkat handuk yang menutupi pantatku.

“Mbak celana dalamnya boleh dibuka..? Supaya mudah diurutnya”, Harry berkata dengan perlahan dan tanpa menunggu persetujuanku, celana dalamku sudah diturunkan dan anehnya aku mengikuti dengan mengangkat perutku untuk memudahkan turunnya celana dalamku.

Lengkaplah pikirku, kini aku telanjang bulat telungkup di ranjang dan seorang laki-laki asing yang baru ketemu belum sampai dua jam memijati seluruh tubuhku.

“H.. Hh.. Ss..”, aku mendesis ketika tangan yang sedang memijat pantatku menyentuh anus dan terkadang menyenggol vaginaku, aku mulai ‘naik’.
“Direnggangkan sedikit Mbak..?”, kudengar suara Harry berkata sementara tangannya memijat pahaku, meminta aku merenggangkan kedua kakiku.

Kini semakin sering vaginaku tersentuh ketika Harry memijat paha bagian dalam, dan aku semakin menahan birahi yang mulai naik, dan ketika kulirik.. kulihat suamiku memperhatikan dengan seksama, dan aku kenal sekali wajahnya kalau ia juga agak terangsang dengan suasana yang ada ini.

“Balik Mbak..!?!”, suara lembut Harry memecah kesunyian, memang bukan aku nggak mau ngobrol tapi posisi telungkup itu membuatku susah berbicara.

Aku membalik dan kini benar benar aku telentang tanpa selembar benangpun dan kulihat bahwa walau professional, Harry tampak menelan ludah melihat tubuh mulusku terpampang di hadapannya.

Tangannya mulai memijat payudaraku dan tanpa dapat dicegah, putingku mengeras ketika tersentuh. Setelah kurang lebih 3 menit masing–masing payudara mendapat ‘giliran’, tangannya mengusap perutku dengan lembut dan terus ke bawah.. Aku mulai menggigit bibir. Dengan penuh konsentrasi, kulihat Harry mulai memijat paha, kaki lalu balik lagi ke paha dan mulai memijat vaginaku..

“Uh.. Oh..”, erangku lirih ketika tangannya memijat atau lebih tepat mengusap bibir vaginaku dan sesekali jarinya ‘membuka’ vaginaku dan menyentuh klitorisku.

Lalu.. Jarinya mulai memasuki vaginaku yang memang sejak tadi sudah membasah.

“Hh.. Uh..”, aku mencoba menahan rasa terangsang yang mulai membakar dan tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dan ketika suamiku maju mendekat, kupegang tangannya yang dibalasnya dengan genggaman.

Kini jari-jari tangan Harry benar benar memainkan vaginaku dengan penuh irama dengan jari telunjuk vaginaku di ‘tusuk’ dan digerakkan maju mundur sementara jempol tangannya memainkan klitorisku dan iramanya benar benar konstan membawaku sangat tinggi dan ketika aku hampir mencapai orgasme, tiba tiba ia menghentikan gerakannya.

Tanpa sadar aku memperbaiki posisiku, sementara Harry juga mengatur posisi menempatkan diri di tengah kedua kakiku yang kini sudah mengangkang lebar, meletakan bantal di pantatku sehingga posisinya nyaman dan mudah untuk menjilatiku.

Lidah hangat itu mulai menjilat, menelusuri dan sesekali menerobos liang vaginaku, dan aku semakin tak tahan..

“Oh.. Uh.. Hh..”, tanganku pun sudah tak sungkan untuk menjambak dan memegang kepala laki-laki itu.

Aku semakin tak tahan ketika lidah itu menelusur ke belakang dan mulai menjilati, bahkan memasuki anusku..

“Oh..”

Terlalu dahsyat sensasi yang kurasakan dan ketika lidahnya secara teratur kembali memasuki liang vaginaku dengan irama teratur juga menjilati bahkan menyedot klitorisku, akupun berteriak..

“Aakkhh.. Aku keluaarr..”

Dan orgasme itu benar benar membuatku terkulai, namun aku masih merasa belum lengkap, vaginaku masih ingin.. kemaluan.. pria.. Namun orgasme tadi menyadarkan aku bahwa ada suamiku di sini dan ketika kulihat ia tampak sangat terangsang.

“Mbak.. Sungguh cantik.. Senang sekali bisa membantu..”, suara Harry yang memujiku kembali membuatku tersipu, dan aku segera bangkit, menyambar handuk lalu setengah berlari menuju kamar mandi.

Aku mandi dan vaginaku masih terus berdenyut-denyut. Ketika aku selesai, kulihat suamiku memberi tanda dan berkata..

“Ma.. Harry mau pamit..”
“Terima kasih Mas..”, kataku dan mengulurkan tangan mnerima jabatannya, sempat kulihat bagaimana selangkangan laki laki itu tampak menggembung, kasihan.., pikirku.
“Hmm.. Bagaimana Ma..?”, tanya suamiku sekembalinya ke kamar setelah mengantar Harry ke pintu.

Aku tidak menjawab, namun langsung menerkamnya, melucutinya dan kemaluannya langsung berada di mulutku..

“Uh..”, cuma itu desahan yang kudengar dan tidak sampai dua menit mulutku sudah penuh air mani suamiku.
“Gila.. Aku sungguh tidak tahan dari tadi, apalagi ketika Harry menjiilatimu”, kata suamiku ketika kami berbaring, menunggu dia ‘recover’ sementara tanganku asyik mengelus kemaluannya yang masih setengah tidur.
“Mas nggak cemburu atau sakit hati?”, tanyaku.
“Nggak.. Malah sangat terangsang.. Toh aku tahu kamu istriku dan mencintaiku”, jawabnya dan aku tak sempat menjawab karena bibirnya sudah menutup bibirku.

Malam itu kami bercinta berkali kali, dan kuakui efek dari kehadiran laki laki lain itu sungguh sangat meningkatkan gairah kami.

“Lain kali.. Boleh kuminta yang memijatmu juga telanjang?”, tanya suamiku beberapa hari kemudian.
“Terserah Mas.. Bagimana baiknya..”, aku menjawab ketika beberapa hari kemudian kami sedang berbaring sehabis bercinta.
“Tapi.. Kalau bisa jangan Harry lagi..”, kataku.
“Kenapa..?” tanya suamiku.
“Nggak ah.. Jangan sampai ada pihak lain yang nanti merasa terlalu dekat dengan kita”, jawabku lagi.

Memang aku tidak ingin rumah tanggaku terguncang karena sebenarnya aku yang takut kalau-kalau aku jadi senang dengan laki laki lain, apalagi setampan dan se-gentle Harry, masih terbayang betapa besar gelembung celananya ketika ia selesai menjilatiku,
Malam itu sesuai rencana kami, kembali suamiku mengundang pemijat laki-laki dan.., heran dari mana ia memperolehnya, karena laki-laki ini sungguh tak kalah ganteng dan bahkan lebih tampan dengan kumis tipis yang tercukur rapi.

Kali ini aku lebih siap, jadi agak santai sehingga ketika mulai dipijat aku juga jauh lebih rileks, tapi CD tetap kupakai sampai akhirnya diminta untuk dilepaskan, persis sama dengan tempo hari.

Ketika aku diminta berbalik, kulihat suamiku memberi kode dan aku ingat permintaannya, sementara kulihat gelembung di selangkangan Rudy, nama pria pemijat itu, mulai membesar melihatku telentang telanjang bulat di hadapannya.

“Rud..”. kataku agak tersendat, karena aku agak malu mengatakannya.
“Masa saya sendiri sih yang telanjang begini.., yang mijat juga harus.. dong”, kataku lagi sambil menatap wajahnya.
“Kalau Mbak inginnya begitu.. Ya saya ikuti.. Kan memenuhi keinginan klien merupakan kewajiban”, katanya dengan nada bergurau, dan ia melihat ke arah suamiku meminta persetujuan yang segera disambut dengan anggukan kepala suamiku.
“Ya.. Ikuti saja kemauan istri saya Rud”, kata suamiku menegaskan.

Agak terbelalak aku ketika melihat Rudy melangkah keluar dari kamar mandi dimana ia menanggalkan pakaiannya. Kemaluannya belum ereksi penuh, tergantung di antara pahanya dengan rambut kemaluan yang lebat, ukurannya jauh lebih besar daripada milik suamiku, tubuhnya atletis, sungguh sosok yang mempesona.

Ketika ia mulai duduk di sisiku dan melanjutkan pijatannya, kulirik kemaluannya mulai ereksi dan seiring dengan proses pemijatan yang berlangsung terkadang kemaluannya menyentuh tubuhku hingga menimbulkan beragam sensasi yang belum pernah kurasakan.

“Hh.. Hh.. Ss..”, aku mendesis ketika tangannya mulai memijat atau lebih tepatnya menyentuh vaginaku.

Aku sungguh menjadi lupa diri, bahkan lupa kalau suamiku sedang menyaksikan dengan penuh perhatian, bahkan aku yang mengambil inisiatif membalik posisi sehingga aku berada di atas dan dengan leluasa menghisap dan menjilat kemaluan laki-laki lain itu, bahkan kujilati seluruh batang yang penuh urat perkasa itu, kujilat bijinya dan terkadang jilatanku agak ‘kejauhan’ hingga terkena anusnya, namun aku tak peduli, nafsu sungguh sudah menguasaiku, sementara Rudy juga tidak tinggal diam, wajahnya yang kukangkangi bergerak terus dan lidahnya aktif sekali ‘menyerang’ dari semua sudut sementara tangannya terkadang ikut membantu dengan menusukan jarinya ke dalam vaginaku, aku benar-benar ‘banjir’.

“Hh.. Aku nggak tahan”, rintihku, lalu kubalik posisiku dengan masih pada posisi di atas, aku mulai mengarahkan kemaluan Rudy menuju vaginaku.
“Zz.. Ss.. Hh..”, seperti orang kepedasan aku bersuara dan sungguh seret vaginaku menerima benda bulat panjang yang keras itu namun akhirnya..

Sllep.., masuklah kepalanya dan hampir-hampir aku orgasme padahal baru kepalanya yang masuk.. Dengan menahan napas dan memejamkan mata, kutekan pantatku ke bawah dan.. Blless.. Masuklah kemaluan Rudy, laki-laki pertama selain suamiku yang memasuki vaginaku yang sudah sangat basah itu, campuran cairan kewanitaanku dan ludah Rudy ketika menjilatiku tadi.

Aku mulai menggerakkan pantatku naik turun dan kemaluan itu semakin lancar saja masuk keluar vaginaku, dan aku tahu kalau aku takkan bertahan lama. Tiba-tiba kulihat suamiku mendekat, juga dalam keadaan sudah telanjang bulat dan kemaluannya yang sudah sangat tegang itu disodorkan ke mulutku yang langsung kusambut dengan lahap.

“Ak.. Kk.. U..”, sangat susah aku bersuara karena kemaluan suamiku masuk keluar mulutku dengan cepatnya, sementara aku juga masih terus bergerak teratur dengan kemaluan Rudy keluar masuk vaginaku.
“Aahhh..”, croot.., croott.., suamiku memuntahkan air maninya dalam mulutku yang tanpa berpikir lagi langsung kutelan, sementara aku juga tak mampu lagi menahan orgasme yang datang dan..
“Ah.. Ss.. Ahh..”, sungguh dahsyat orgasme ini datang beruntun dan aku ambruk di atas dada Rudy sementara bibirku langsung dicium dan lidahnya memasuki rongga mulutku tanpa peduli lagi bahwa mungkin masih banyak air mani suamiku di bibir dan mulutku.

Rudy tidak berhenti begitu saja namun membalik badanku hingga kini berada di bawah dan tanpa memberi kesempatan langsung bergerak memompa dengan keras namun teratur.., dan entah bagaimana, walau baru saja orgasme namun birahiku terasa naik lagi dan aku hanya bisa merintih penuh kenikmatan.

“Ss.. Aa.. Hh.. Sszz”, aku tak bisa menahan lagi orgasme yang tak kalah dahsyatnya dengan yang pertama, melandaku kembali dan kurasakan Rudy juga mempercepat gerakannya, kujepit pinggangnya dengan kakiku, sementara tanganku memeluknya seerat mungkin dan..

Crrot.. crott.. crrot.., air mani yang terasa sangat hangat menyiram dinding dalam vaginaku, tubuh kami masih bergetar beberapa saat sebelum ia berguling dari atas tubuhku, dan kami terbaring kelelahan, suamiku juga tampak sangat puas dan tersenyum melihatku kelelahan dan penuh kepuasan, lalu menghampiriku dan mencium bibirku dengan mesra.

Aku duduk dengan suami di sampingku, Rudy masih berbaring. Kemaluannya tampak melemas, dengan lendir yang membasahi hingga ke bulu kemaluannya.

Entah pikiran apa yang tersirat, tiba tiba saja aku menundukkan kepala dan kemaluan itu masuk ke dalam mulutku, kuhisap dan kujilat, lidahku bermain di lubang kemaluan itu, dan perlahan tapi pasti kemaluan itu mulai membesar kembali dalam mulutku. Hebat, pikirku. Suamiku takkan secepat ini dapat bangkit kembali.

“Mhh..”, laki-laki itu mulai mengerang dan aku semakin aktif menjilat dan menghisap, tak kupedulikan lendir yang terpaksa kutelan dan tanganku ikut membantu mengocok pangkal kemaluannya dan ternyata.. Aku menang..

Crot.. Crott.., memang tidak terlalu banyak, namun masih terhitung cukup air mani pemijat itu memasuki mulutku dan aku juga tak memberi kesempatan padanya hingga kutelan air mani yang dikeluarkannya itu sambil terus menghisap sampai akhirnya kemaluan itu benar benar mengecil dan ‘tertidur’ baru kulepaskan dari mulutku, lalu kupeluk suamiku yang masih berada di sampingku dan kucium bibirnya tanpa peduli bahwa masih ada sisa air mani laki-laki lain yang menempel dibibirku, namun ia tidak berkeberatan bahkan menyambut ciumanku dengan antusias.

Malam itu setelah Rudy pulang dengan mengantongi uang pembayaran atas jasanya, kami berbincang-bincang dan kembali aku melayani suamiku yang masih belum terpuaskan sepenuhnya. Setelahnya, malam itu aku tidur sangat lelap, dan paginya bangun dengan tubuh yang pegal namun perasaanku penuh kepuasan. Kejadian semalam ternyata sungguh mengubah diriku…….
Selama beberapa minggu, kehidupan kami kembali normal, namun tiba tiba pada suatu malam aku merasa begitu bernafsu, walaupun baru saja selesai berhubungan intim dengan suamiku, dan entah dorongan apa yang membuatku hingga berani ‘meminta’.

“Mas.. Aku.. Ingin..”, kalimatku hampir tak selesai.
“Hm.. Ingin.. Apa sayang..?”, tanya suamiku setengah terpejam masih menyisakan kelelahan setelah terpuaskan.
“Ngg.. Masih ingin lagi.. Nih.., Mas.. Sih.. Gara.. Gara waktu itu.. Jadi.. Kadang kadang tingginya.. Bukan main nih.. Nafsuku..”, kataku setengah merajuk sambil mulai meremas kemaluan suamiku yang belum menegang lagi.
“Mama.. Mau.. Di panggilin lagi?”, kini suamiku juga mulai bersemangat lagi, sambil memperbaiki sikap duduknya.
“Ng.. Kalau Mas.. Nggak keberatan..”, jawabku. Suamiku tersenyum..
“OK.. Kupanggil ya.. Tapi Mas nggak ikut main ya? Masih cape nih.. Mana besok ada rapat pagi, ntar nggak bisa fokus lagi”, katanya.
“Ya.. Udah lain kali aja..”, jawabku.
“Nggak apa-apa kok.. Mas senang kalau Mama puas, apalagi mau terus terang begini..”, suamiku menjawab, berpakaian dan sambil menciumku segera beranjak menuju pesawat telepon.
“Jangan surprise ya?” katanya.

Tidak sampai dua jam, walau sudah larut (hampir jam 12.00 malam) bel rumah berbunyi dan ketika aku keluar, di ruang tamu sudah duduk 2 orang laki-laki muda yang sedang berbicara dengan suamiku. Kembali aku agak canggung, namun dengan luwesnya suamiku bisa mencairkan suasana dan setelah berbasa basi sebentar aku masuk kamar diikuti suamiku.

“Apa apaan sih.. Kok 2 orang..?”, tanyaku dengan agak kesal namun juga ingin tahu.
“Nggak.. Apa apa.. Mas ingin Mama benar benar menikmati.. Mereka semua terjamin kok, lagian makin banyak makin seru kan..?”, suamiku menjawab dengan senyum, namun matanya memandangku dengan sangat nakalnya.
“Udah.. Mau ganti baju atau langsung kusuruh masuk saja..?”, tanya suamiku lagi.

Aku beranjak ke kamar mandi di dalam kamar, dan ketika keluar mengenakan daster, mereka sudah berada di dalam kamar dan salah seorang yang bernama Derry, bertubuh tinggi, berkulit kuning bersih dan berwajah seperti bintang sinetron, segera menghampiri dan menyambutku, sementara temannya yang bernama Ronald dengan postur sedikit lebih pendek kekar dan berpenampilan seperti ABRI memandangku dengan kagum karena memang aku sempat berdandan tadi ketika menunggu mereka.

Derry segera memegang tanganku, merangkul, dan sekejap kemudian aku sudah berada dalam pelukannya, lalu dibimbingnya aku ke ranjang dan Ronald menyusul, lalu mereka berdua mulai mencumbuku, seakan tak peduli dengan kehadiran suamiku yang memperhatikan dengan seksama.

Dengan lembut mereka melepaskan seluruh penutup tubuhku dan detik berikutnya bibir mereka sudah mulai menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Bergantian mereka menjilatiku, kadang Derry mencium bibirku sementara Ronald menjilati payudara dan terus menelusur ke bawah, dan ketika lidahnya naik lagi Derry yang bergerak menjilatiku terus ke bawah sementara Ronald terus ke atas sampai kami saling berciuman.

Sensasi demi sensasi kudapatkan dari kedua pemuda ini, yang dengan sangat kompak bekerja sama menjilatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki..

Posted 16 July 2010 by argaharto in Sex Story ^_^